pesawat filipinaManila, LiputanIslam.com — Pesawat militer dan komersial Filipina akan tetap terbang di atas kawasan sengketa Laut Cina Selatan, meski Beijing telah mengeluarkan peringatan. Demikian kata Presiden Benigno Aquino, Senin (25/5) seperti dilaporkan Antara.

“Kami akan tetap menggunakan rute penerbangan sesuai dengan hukum internasional dari berbagai konvesi yang kami sepakati,” kata Aquino kepada sejumlah wartawan saat ditanya sikap Filipina terkait ancaman dari Cina.

Pada pekan lalu, pihak militer Cina meminta pesawat mata-mata P-8 Poseidon milik Amerika Serikat untuk keluar dari wilayah udara yang status kepemilikannya masih disengketakan, yaitu kepulauan Spratly, Laut Cina Selatan.

Pihak kementerian luar negeri Cina kemudian menegaskan bahwa mereka mempunyai hak kedaulatan di perairan tersebut, termasuk kekayaan laut dan juga udara di atasnya.

Beijing memang mengklaim hampir seluruh wilayah Laut Cina Selatan hingga di tempat-tempat yang sangat dekat dengan garis pantai Filipina dan sejumlah negara lain di Asia Tenggara.

Baru-baru ini, Cina melakukan sejumlah tindakan yang dinilai mengkhawatirkan bagi negara-negara yang turut bersengketa. Salah satunya adalah reklamasi besar-besaran di kepulauan Spratly yang terletak di antara Filipina dan Vietnam, untuk mengubah wilayah terumbu karang itu menjadi pulau buatan yang akan digunakan sebagai landasan pesawat udara dan juga fasilitas militer lainnya.

Mengenai peringatan Cina untuk tidak terbang di wilayah sengketa, Aquino mengatakan bahwa Filipina tidak akan menyerahkan wilayahnya kepada Beijing meski dia mengakui bahwa kekuatan militer kedua negara tidak berimbang.

“Kami akan mempertahankan hak kami di zona ekonomi eksklusif,” kata dia.

“Kesimpulannya adalah, kami akan mempertahankan hak dengan segala kemampuan kami,” katanya.

Di sisi lain, Aquino juga mengungkapkan bahwa negaranya tengah merundingkan sengketa wilayah tersebut dengan AS yang merupakan sekutu terdekat. Namun demikian ia tidak menjelaskan lebih jauh mengenai perundingan tersebut.

Selain Filipina, negara lain yang bersengketa dengan Cina adalah Vietnam, Malaysia, dan Brunei Darusalam. Semua negara tersebut, kecuali Brunei, mempunyai fasilitas militer di kepulauan Spratly.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL