Police collect evidence near the body of Farzana Iqbal outside the Lahore high court buildingLahore, LiputanIslam.com — Kepolisian Pakistan mendapat kecaman keras atas aksi diam diri mereka terhadap tindakan hukuman rajam terhadap seorang wanita hamil di depan Lahore High Court hari Selasa (27/5).

Kepala Badan HAM PBB Navi Pillay mengaku sangat terkejut dengan aksi tersebut dan mendesak pemerintah Pakistan untuk melakukan langkah tegas untuk mencegah aksi-aksi serupa terjadi.

“Saya bahkan tidak menggunakan kata “pembunuhan bermartabat” atas masalah ini. Tidak ada kehormatan dengan membunuh seorang wanita dengan cara seperti ini,” kata Pillay.

“Pembunuhan bermartabat” (honour killing) adalah istilah yang banyak digunakan di Pakistan, untuk pembunuhan terhadap wanita yang melanggar “aturan” keluarga dalam pernikahan. Ada ratusan kasus “pembunuhan bermartabat” dalam setahunnya di Pakistan, biasanya dialami oleh wanita yang menikah dengan laki-laki yang tidak diinginkan keluarganya.

Dalam kasus yang menimpa Farzana Parveen, wanita yang dibunuh oleh keluarganya sendiri dalam keadaan hamil 3 bulan pada hari Selasa lalu, ia dilempari dengan batu beramai-ramai hingga meninggal di luar kantor pengadilan tinggi Lahore. Polisi sendiri tidak melakukan tindakan apapun untuk mencegah aksi biadab tersebut.

Muhammad Iqbal, suami Farzana Parveen, mengutuk aksi diam polisi dan menyebutnya sebagai “memalukan” dan “tidak berperi-kemanusiaan”.

“Kami berteriak meminta tolong, namun tidak ada yang mendengarnya. Salah seorang keluarga saya menanggalkan pakaian untuk menarik perhatian polisi, namun mereka diam saja,” kata Iqbal kepada BBC.

“Mereka melihat Farzana dibunuh dan mereka tidak melakukan apapun,” tambahnya.

Ayah Farzana yang bertanggungjawab atas aksi biadab tersebut akhirnya menyerahkan diri ke kantor polisi. Namun keluarganya yang juga terlibat, masih bebas berkeliaran.

Menurut Iqbal, keluarga Farzana bahkan telah mengancam dirinya dan keluarganya.

“Kemarin mereka mengatakan akan menggali kembali jenasah Farzana. Kami pun datang dengan kawalan polisi,” kata Iqbal.

Kepala Polisi setempat, Mujahid Hussain, mengakui telah menangkap beberapa tersangka dan kasus ini tengah diselidikinya.

Kasus ini bermula ketika orang tua Farzana menuduh Iqbal telah menculik putrinya dan mengajukan kasusnya hingga ke pengadilan tinggi Lahore. Namun Farzana mengaku kepada polisi bahwa dirinya menikah dengan Iqbal atas dasar cinta.

Iqbal menuturkan kepada BBC bahwa saat dirinya dan istrinya tiba di pengadilan hari Selasa (27/5), keluarga dan kerabat istrinya telah menunggunya dan merebutnya dari dirinya. Saat Farzana meronta, ia diseret di lantai, kemudian dilempari batu hingga tewas di luar gedung pengadilan.

Komisi HAM Pakistan mencatat tahun lalu terdapat 869 kasus “pembunuhan bermartabat” di Pakistan, meski diyakini angka sebenarnya jauh lebih tinggi karena tidak semua kasus sejenis diketahui.(ca/bbc)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL