OLYMPUS DIGITAL CAMERALiputanIslam.com — Pada bulan Oktober 1853 hingga Februari 1856 dunia menyaksikan salah satu perang terbesar sepanjang sejarah manusia yang disebut Perang Krimea.

Perang yang berlangsung di sekitar Laut Hitam dan terutama di Semenanjung Krimea itu melibatkan 5 negara: Turki, Inggris, Perancis dan Sardinia di satu pihak, melawan Rusia di fihak lainnya. Selain itu, dalam tingkat pertisipasi yang lebih kecil Jerman, Swiss dan Slavia mendukung Turki dan Bulgaria, Serbia dan Yunani mendukung Rusia.

Sebagaimana kata-kata bijak bahwa dalam politik tidak ada yang kebetulan dan semuanya adalah konspirasi, demikian juga dalam Perang Krimea. Meski dibalut dengan motif agama, yaitu antara penganut Katholik di satu pihak melawan penganut Kristen Orthodox di pihak lain, motif ekonomi dan chauvinisme (kebanggaan pada negara yang berlebihan) tetap menjadi motif utamanya.

Rusia, di satu sisi menginginkan akses “laut air hangat”, sebagai pengganti mayoritas pelabuhan-pelabuhannya di Laut Baltik dan Laut Arctic yang membeku pada musim dingin, dan itu didapatkan di Laut Hitam di mana terdapat Semenanjung Krimea dengan kota Sevastopol-nya yang strategis.

Di sisi lain Inggris, Perancis dan Turki, tidak menginginkan pengaruh Rusia berkembang ke selatan. Mereka ingin Rusia tetap terisolir di padang rumput. Dan Perancis, terlebih lagi, masih dendam pada Rusia yang mengalahkan pasukan agresor Napoleon belasan tahun sebelumnya.

Singkat kata terjadilan perang besar-besaran di sekitar Laut Baltik dan Semenanjung Krim yang menelan ratusan ribu nyawa pasukan kedua pihak dan penduduk sipil di sana. Rusia memang akhirnya kalah setelah dikeroyok beberapa negara besar sekaligus dan harus kehilangan Sevastopol. Namun Rusia berhasil membuktikan bahwa mereka bukan bangsa yang “lembek”, terutama saat harus mempertahankan wilayah kekuasaannya, sebagaimana mereka buktikan ketika mengalahkan pasukan Napoleon dan juga tentara Nazi Jerman dalam Perang Dunia II.

Kini kondisi yang sama tengah dihadapi Rusia, ketika Inggris dan Perancis, juga Amerika, melalui agen-agen mereka di Kiev, berusaha menyingkirkan Rusia dari Ukraina dan Semenanjung Krim, 2 wilayah yang secara kultural adalah bagian dari “negeri Rusia” yang berada di “laut air hangat” Laut Hitam.

Beberapa pengamat internasional, termasuk DR. Paul Craig Roberts (mantan asisten Menkeu Amerika dan editor Wall Street Journal) menganggap Rusia terlalu lunak sehingga harus kehilangan sekutu kuatnya di Kiev, dan kini terancam pengaruhnya di Krimea dan Ukraina Timur. Minimal, setelah kehilangan pengaruh di Kiev, Rusia bisa mengambil alih Krimea dan Ukraina Timur yang mayoritas penduduknya berbahasa Rusia. Dan Rusia telah memiliki legitimasi kuat untuk melakukan hal itu berdasarkan setidaknya 4 alasan: legitimasi rezim baru Kiev yang lemah karena didirikan oleh para “berandalan” melalui kudeta, adanya permintaan resmi dari pemimpin legitimet yang terpilih secara demokratis (Yanukovich), melindungi warga keturunan Rusia, dan mengembalikan status sosio-historis Krimea dan Ukraina Timur ke tangan negara induknya.

Namun demikian Rusia telah memberikan isyarat bahwa mereka akan melawan. Selain pendudukan Krimea oleh pasukan Rusia, Rusia juga telah menyiagakan pasukannya di sepanjang perbatasan barat dengan Ukraina dan negara-negara NATO.

Baiklah, mungkin Vladimir Putin dan para pemimpin Rusia tidak benar-benar serius untuk berkonfrontasi dengan barat, meski itu berarti harga diri mereka yang hilang. Namun godaan untuk mengikuti pendahulu mereka selama Perang Krim I tidak akan hilang paska Revolusi para “berandalan” di Kiev tgl 21 Februari lalu.

Demi memuaskan para donatur mereka di barat, rezim baru Ukraina telah mempersiapkan paket kebijakan ekonomi yang sangat tidak populer, di antaranya memotong uang pensiunan hingga 50%. Pada saat yang sama mereka mengangkat para pebisnis tamak agen-agen kepentingan barat untuk menjadi pejabat negara dengan dilindungi oleh tentara-tentara bayaran Blackwater dari Amerika. Pada saat itulah aksi-aksi kerusuhan akan terjadi, dan Rusia pun tidak akan memiliki pilihan lain kecuali mengirimkan pasukannya memasuki perbatasan Ukraina, sama seperti ketika pasukan Rusia menyeberangi Sungai Danube dan menjadi awal terjadinya Perang Krim I.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL