baltimore unrestBaltimore, LiputanIslam.com — Unjuk rasa menentang aksi kekerasan oleh aparat kepolisian di kota Baltimore meluas ke sejumlah kota di AS, dari New York sampai Denver.

Sementara itu demonstrasi besar di Baltimore berakhir dengan damai tepat dua hari setelah kota itu dilanda hura-hara akibat kematian seorang berkulit hitam saat berada dalam tahanan polisi.

Di New York, polisi menangkap lebih dari 60 orang saat para pengunjuk rasa mulai terpecah menjadi beberapa kelompok kecil sehingga memacetkan jalan. Demonstrasi skala kecil juga terjadi di Boston, Houston, Ferguson, Missouri, Washington D.C., Seattle, dan juga Denver.

Di Baltimore, sekitar 3.000 tentara nasional dan polisi ditempatkan untuk membubarkan ribuan demonstran yang berkumpul di balai kota, demi menegakkan jam malam pukul 22.00 waktu setempat.

Para demonstran itu menuntut jawaban atas nasib Freddie Gray (25) yang mati karena cedera tulang belakang saat ditahan polisi. Polisi sendiri berjanji akan memberikan hasil penyelidikan terkait kematian Gray kepada kejaksaan, Jumat (1/5), dan tidak akan membuka informasi itu kepada publik.

“Mereka tidak pernah berhenti, penjarakan polisi pembunuh,” teriak para demonstran di Baltimore.

Sebelumnya hari Senin lalu (27/4), kota Baltimore dilanda huru-hara beberapa jam setelah pemakaman Gray. Dalam peristiwa ini sekitar 19 bangunan dan puluhan mobil terbakar, sejumlah toko dijarah, dan 20 polisi terluka.

Gray ditangkap 12 April lalu setelah lari dari kejaran polisi di area yang dikenal sering terjadi kejahatan. Saat itu dia membawa sebilah pisau lipat. Gray meninggal dunia sepekan kemudian.

Noy Brown-Frisby, penata rambut berusia 35 tahun yang turut berdemonstrasi bersama putrinya menyebut aksinya diperuntukkan “bagi semua orang yang tewas akibat perlakuan keras dari polisi.”

Namun di sisi lain, dia mengakui tingkat kejahatan yang tinggi di Baltimore yang berpenduduk 620.000 jiwa itu memang menyulitkan hubungan antara polisi dengan warga.

“Ketegangan antara kami dengan polisi terus terjadi. Tingkat kejahatan begitu tinggi sehingga saat polisi berinteraksi dengan warga yang sering terjadi kemudian adalah munculnya gejolak sosial,” kata dia.

Sebagian besar penduduk Baltimore ingin mengetahui rincian kematian Gray pada hari Jumat, saat polisi menyelesaikan investigasi internalnya.

Namun polisi, pada hari Rabu (29/4), mengatakan informasi tersebut hanya akan diserahkan ke kantor kejaksaan negara bagian dan tidak terbuka untuk publik.

Di sisi lain, Departemen Kehakiman AS menggelar penyelidikan secara terpisah untuk mengetahui apakah telah terjadi pelanggaran hak sipil dalam kasus kematian Gray, demikian Reuters melaporkan seperti dilansir Antara.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL