garuda_bendera1

Ilustrasi Indonesia

Bandung, LiputanIslam.com — Habib Zaky Ali Alaydrus menyebutkan bahwa sebuah negeri yang dicintai Allah, tercermin lewat keberlangsungan kehidupan di dalamnya. Jika masyarakatnya hidup dalam kedamaian, itu adalah pertanda bahwa negeri tersebut diberkahi Allah.

Baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur (negeri yang dicintai Allah) merupakan satu keinginan dan dambaan, tapi keinginan dan dambaan ini menjadi sia-sia apabila tidak diiringi kedekatan kita kepada Allah,” kata Habib Zaki dalam tausyah Istighosah Akbar yang diselenggarakan Polisi Daerah (Polda) Jawa Barat di lapangan Mapolda, Gede Bage, kota Bandung, Rabu, 31 Desember 2014, seperti dilansir Nu Online.

Menurut pengasuh Majlis Burdah di kota Bandung itu, tidak mungkin negeri ini akan menjelma menjadi baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur sementara di sana sini terjadi kemaksiatan kepada Allah.

“Alhamdulillah, kini ada dua kekuatan telah bersinergi niat baik mewujudkan baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur. Mereka adalah golongan yakni umara (pemerintah) dan ulama untuk berjalan bersama untuk menghilangkan kemaksiatan dan kemungkaran di muka bumi ini,” jelasnya.

“Dua sejoli ini harus bergandengan tangan, harus merapat untuk mewujudkan negeri yang bahagia. Apabila dua golongan ini baik, maka negeri ini akan menjadi baik. Dan sebaliknya, apabila dua golongan ini binasa, tidak benar, maka sulit untuk mewujudkan baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur,” jelas Habib Zaky.

Dalam Istighosah Akbar tersebut, nampak hadir pula tokoh-tokoh dari ulama, habaib, pejabat, mulai dari tokoh dari kalangan NU, MUI Jabar, gubernur Jabar, aparat kepolisian, dan pejabat pemerintahan lainnya.

“Malam ini kita dibuktikan, kita minta kepada Allah agar ada kebersamaan antara umara dan ulama, duduk bersama untuk menjadi sebab datangnya keberkahan dari Allah,“ ujarnya.

Potret Pemerintah dan Ulama di Tahun 2014

Kasus perseteruan antara ulama dan pemerintah di Indonesia sepanjang 2014 cukup banyak menarik perhatian. Misalnya, antara Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama dengan Front Pembela Islam (FPI) yang dimotori oleh ulama sekaliber Habib Rizieq Shihab. FPI mengangkat gubernur tandingan, karena pihaknya menolak kepemimpinan Basuki.

Indonesia juga dihadapkan dengan ancaman kelompok teroris transnasional Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) yang semakin massif menyebarkan ideologinya. Ulama-ulama NU mulai bertindak cekatan dengan melatih guru-guru NU untuk menangkal ideologi radikal dan aktif mensosialisasikan bahaya ISIS kepada jemaah. Namun di sisi lain, Kapolri Jenderal Sutarman justru menyatakan bahwa ISIS belum membahayakan NKRI. Setali tiga uang, Kementrian Komunikasi dan Informasi juga membiarkan berbagai situs propaganda ISIS tetap eksis. (Baca: Pernyataan Kapolri Anggap ISIS Belum Berbahaya Tuai Kritikan)

Yang tak kalah memprihatinkan adalah, sepanjang tahun 2014 kasus korupsi yang dilakukan oleh pejabat di Indonesia menunjukkan trend kenaikan, seperti dirilis oleh Indonesia Corruption Watch (ICW), Minggu, 17 Agustus 2014. Pada semester pertama tahun lalu, diperkirakan sekitar Rp 3,7 triliun uang negara ‘hilang’ karena dikorupsi oleh pejabat mulai dari pusat hingga daerah.

Lalu sepanjang tahun 2014, berbagai acara yang bermuatan hate speech (ujaran kebencian) juga kerap dilakukan oleh pemuka-pemuka agama di dalam berbagai seminar maupun masjid. Kelompok lain yang berbeda pemahaman, disebut sebagai ahli bid’ah, musyrik, sesat, atau bahkan kafir dan harus dimusuhi. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*