Jokowi-Metal-DJakarta, LiputanIslam.co — Deklarasi pencapresan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo menjadi calon presiden RI 2014 tak luput dari pemberitaan media internasional. Euforia Jokowi menjadi capres asal PDIP itu pun terasa hingga media mancanegara.

Hasil penelusuran sebuah media nasional, Sabtu (15/4), media-media utama barat seperti Wall Street Journal, Business Week, Reuters dan lain-lain memberitakan pencapresan Jokowi. Mereka ramai-ramai memberitakan deklarasi Jokowi yang dibacakan oleh Puan Maharani Jumat (14/3) kemarin di Lenteng Agung, Jakarta.

Media ternama asal Amerika, New York Times, memberi judul “Jakarta’s Popular Governor Gets His Party’s Nod for President“. Berita itu diupload oleh NY Times kemarin ke dalam website-nya.

Business Week memberi judul “Jakarta Governor to Run for Indonesia President in July Election.” Sedangkan Wall Street Journal memberi judul pencapresan Jokowi dengan judul “Jakarta Governor to Contest Indonesian Presidential Race,” dengan sub judul “Party Names Joko Widodo as Candidate in July Elections.”

Media Australia dan Bangkok Post pun turut larut dalam euforia pencapresan Jokowi. Media asal negeri Kangguru Sydney Morning Herald memberi judul “Joko Widodo to run for presidency in Indonesia.”

Hampir di tiap media juga menuliskan, meski Jokowi sudah mendapat restu untuk maju capres tapi itu belum bersifat mutlak. Di Indonesia, parpol bisa mengajukan seorang capres bisa dicalonkan jika telah mengantongi 20 persen kursi DPR atau 25 persen suara dalam pemilihan suara legislatif.

Ingkari Janji Kampanye Pilkada?
Pengamat politik dari Universitas Jayabaya Igor Dirgantara mengatakan, Joko Widodo melakukan pengingkaran terhadap janji kampanyenya pada Pilkada DKI Jakarta dengan menjadi calon presiden yang diusung oleh PDI Perjuangan.

“Saya sudah memprediksi hal itu dalam berbagai analisa baru-baru ini yang tersebar di berbagai media asing,” ujar Igor di Jakarta, Jumat (14/3).

Saingan terkuat Jokowi, sapaan akrab Joko Widodo, nanti tak lain adalah Prabowo Subianto yang memiliki popularitas dan elektabilitas yang cukup sederajat dengan Gubernur DKI tersebut.

“Pertarungan pada Pilpres diprediksi akan sengit dan dapat berlangsung dua putaran,” tambah dia.

Igor mengatakan, pencapresan Joko Widodo itu merupakan pengingkaran terhadap janji kampanyenya pada Pilkada DKI Jakarta.

“Pada masa kampanye, Jokowi berjanji untuk menyelesaikan jabatannya sebagai Gubernur DKI Jakarta sampai 2019.”

Pemimpin yang baik harus bisa berjanji dan menepati janjinya. Pemimpin yang buruk adalah yang tidak punya janji kepada publik, atau yang ‘ingkar atas janjinya’.
Masyarakat, lanjut dia, bisa melihat permasalahan keselarasan yang diucapkan kemauan untuk merealisasikannya.

Apalagi segudang janji pernah digulirkan Jokowi saat membidik jabatan Gubernur DKI, seperti penanganan banjir, macet, dan sebagainya.

“Masyarakat harus lebih kritis terhadap Jokowi. Jika maju sebagai Capres 2014 nanti, apa lagi yang akan dijanjikannya? Jadi Gubernur aja meleset janjinya, gimana jadi Presiden,” kata dia.

Dia melihat sebagai Capres 2014, kuantitas dan kualitas kebijakan Jokowi masih belum bisa diketahui. Sangat mungkin malah akan mengecewakan rakyat Indonesia yang sudah memberikannya terlalu banyak harapan untuk perubahan dan melaksanakan agenda reformasi.

“Jokowi berhasil mendekatkan diri dengan masyarakat karena praktik blusukannya. Itu bisa saja diapresiasi. Tapi seharusnya Jokowi adalah orang yang mutlak dikontrol dan diawasi. Karena bagaimanapun juga, Jokowi juga seorang politikus yang punya strategi dan motif politik tertentu. Oleh karena itu, Jokowi perlu juga dilihat kelemahan dan kekurangannya,” tambah dia.

Selain itu, dia melihat para tokoh muda atau pendatang baru dianggap belum punya kapasitas jaringan yang kuat dalam sistem politik di Indonesia. Jika pun ada, mereka biasanya terpaku pada satu patron politik.

PDI Perjuangan resmi mencalonkan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo sebagai calon presiden partai berlambang banteng itu, Jumat (14/3). Putri Megawati Soekarnoputri, Puan Maharani, mengumumkan pencalonan itu.

Deklarasi Jokowi sebagai capres PDI Perjuangan mengakhiri spekulasi tentang sosok capres dari partai pimpinan Megawati itu. Pro kontra pun bermunculan atas pemberian mandat tersebut.

LIPI: Diusung Bukan karena Popularitas, Bukan Kapabilitas

Di sisi lain, latar belakang pendeklarasian Joko Widodo (Jokowi) sebagai capres PDI Perjuangan dinilai lebih karena faktor popularitas. Bukan murni soal kapabilitas.

Peneliti Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2P-LIPI), Firman Noor mengatakan, saat ini tingkat popularitas Jokowi masih tinggi dibandingkan kandidat lain. Bahkan, beberapa survei yang beredar belakangan pun kebanyakan masih menempatkan elektabilitas Jokowi di urutan teratas.

“PDI Perjuangan tentu telah memperhitungkan realitas tersebut sebelum memutuskan pendeklarasian ini,” ujar Firman saat dihubungi media, Jumat (14/3).

Firman berpendapat, masyarakat selama ini sebenarnya cenderung melihat sisi popularitas Jokowi ketimbang kapabilitasnya. Padahal secara objektif, kinerja Jokowi selama menangani Jakarta belum menunjukkan hasil memuaskan.

Ia pun memprediksikan perjalanan Jokowi menuju RI 1 nanti tidak bakal berjalan mulus. Apalagi, momentum pendeklarasian Jokowi dilakukan ketika pemerintahannya di Jakarta sedang dilanda banyak masalah.

Menurutnya, akan banyak kritik yang datang setelah ini kepada Jokowi. Misalnya, soal kemacetan yang semakin parah di ibu kota, serta manajemen Transjakarta yang ternyata banyak nuansa kolusinya.

“Itu semua bisa menjadi batu sandungan bagi Jokowi. Ibarat orang mau naik tingkat, ujian di level bawah saja belum lulus, bagaimana mau naik ke tingkat yang lebih kompleks lagi?” kata Firman.

Pendamping Jokowi?
Sementara itu spekulasi pendamping Joko Widodo (Jokowi) pada Pilpres 2014 terus bergulir. Sejumlah nama telah muncul sebagai kandidat wakil presiden seperti Jusuf Kalla, Ryamizard Ryacudu, Gita Wirjawan, Pramono Edhie Wibowo, dan Ahmad Heryawan (Aher).

Pengamat komunikasi politik dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Iman Mukhroman, mengatakan, Aher calon wapres paling ideal bagi Jokowi. “Aher memiliki sejumlah modal dan alasan untuk bisa mendampingi Jokowi pada Pilpres 2014 mendatang,” kata Iman, Sabtu (15/3).

Perpaduan Jokowi-Aher mempresentasikan perkawinan kubu nasionalis (Jokowi) dan agamis (Aher). Juga, keduanya, jelas Aher, memadukan perkawinan antara Jawa dan non-Jawa.

Secara geopolitik dan psikogis, Iman berpendapat, PDI Perjuangan patut mempertimbangkan Aher –yang merupakan kader PKS– sebagai cawapres Jokowi.

“Ada kerinduan dari warga Jawa Barat agar putra terbaiknya menjadi capres atau cawapres, dan Aher pas untuk itu,” kata Iman.

Alternatif cawapres lainnya, Iman mengatakan, bisa saja Yusril Ihza Mahendra atau Syahrul Yasin Limpo. Intinya, kata dia, Jokowi harus mencari cawapres yang potensial dan muda.(ca/republika.co.id/detiknews)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL