yirenpingBeijing, LiputanIslam.com — Kementerian Luar Negeri Cina, Selasa (14/4), mengancam akan menghukum sebuah LSM ternama yang tengah melobi bagi pembebasan lima pegiat perempuan, dan mengatakan bahwa LSM tersebut harus bertanggung jawab karena “melanggar hukum”.

Yirenping, LSM anti-diskriminasi yang membela hak-hak penderita HIV, hepatitis B, perempuan dan para difabel, menuduh pemerintahan Presiden Xi Jinping telah menahan ratusan pegiat dalam dua tahun terakhir. Hal itu dianggapnya  sebagai langkah terburuk sepanjang dua dasawarsa untuk membungkam perbedaan pendapat.

Pada akhir Maret polisi Cina menyerbu kantor Yirenping dan menyita beberapa komputer jinjing serta daftar kontak, kata seorang pendiri LSM tersebut, Lu Jun, kepada Reuters, seperti dilansir Antara.

LSM tersebut juga melobi untuk pembebasan lima pegiat perempuan, yang penahanannya telah memantik kemarahan pihak Barat serta penggerak HAM Cina.

Para pegiat perempuan yang berkampanye melawan kekerasan dalam rumah tangga serta diskriminasi tersebut pada Senin dibebaskan dengan jaminan.

“Untuk organisasi tempat mereka bernaung, Pusat Yirenping Beijing, karena organisasi ini diduga melanggar hukum, mereka akan menghadapi hukuman,” kata juru bicara Kemenlu Cina Hong Lei.

Belum jelas hukuman apa yang akan dikenakan terhadap Yirenping.

Dalam sebuah pernyataan kepada wartawan pada Selasa malam, Lu mengatakan LSM tersebut akan menggunakan pengacara untuk merespons tuduhan tersebut serta tindakan penyerbuan kantor mereka pada Maret.

Lu mengatakan berbagai departemen dalam kepolisian telah memantau Yirenping sejak LSM tersebut didirikan pada 2006.

“Kami punya alasan untuk meyakini bahwa jika Yirenping benar-benar terlibat dalam tindakan ilegal, polisi sudah lama akan mengangkat kasus itu, dan bukan kementerian luar negeri seperti sekarang ini,” kata Lu.

Selama lebih dari sebulan, Lu berkampanye untuk pembebasan para pegiat tersebut, mengirim informasi kepada jurnalis serta membuat grup di akun Facebook bernama “Bebaskan feminis Cina”.

Wang Zheng, peneliti masalah perempuan dan jender pada Universitas Michigan mengatakan ia yakin otoritas Cina menyasar para pegiat perempuan itu karena “mereka ingin memukul Yirenping”.

“Pihak berwenang mungkin tidak ingin membuat guncangan terlalu besar dengan menahan pemimpin Yirenping, sehingga mereka menahan perempuan-perempuan muda ini untuk mengirimkan pesannya,” kata Wang seperti dikutip dalam wawancara yang dipublikasikan dalam China Change, laman masyarakat madani di Cina.

“Mereka berhasil menakut-nakuti Yirenping. Begitu para feminis muda ini ditahan, setiap orang yang bekerja di Yirenping tahu ini terkait dengan Yirenping,” katanya.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL