konflik laut cinaBeijing, LiputanIslam.com — Pemerintah Cina menuding Jepang dan Filipina bersekutu dalam forum keamanan regional pekan ini untuk menyerang Cina terkait wilayah sengketa di Laut Cina Selatan. Demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Cina, seperti dilansir Antara hari ini (7/8).

Cina mengklaim sebagian besar wilayah Laut Cina Selatan, yang menjadi rute pelayaran dagang bernilai triliunan dolar per tahun. Cina juga tidak malu-malu lagi menggelar kekuatan maritimnya di Laut Cina Selatan untuk menguatkan klaim sepihaknya atas perairan itu.

Filipina, Vietnam, Malaysia, Taiwan, dan Brunei juga memiliki klaim terpisah-pisah yang tumpang tindih. Isu sensitif Laut Cina Selatan ini akhirnya jadi dibahas dalam Pertemuan Puncak Menteri-menteri Luar Negeri ASEAN di Kuala Lumpur pekan ini.

Pertemuan puncak ini juga dihadiri Menteri Luar Negeri Cina, Wang Yi. Padahal Cina sudah mewanti-wanti agar isu ini jangan dibahas di pertemuan itu.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Kerry, hari Kamis menuding Cina membatasi navigasi pelayaran dan terbang melampaui batas wilayah di perairan sengketa itu, meskipun mereka memberikan jaminan langkah-langkah itu tidak akan menimbulkan hambatan.

Dalam pidatonya di pertemuan puncak Asia Timur di Kuala Lumpur, Kerry mengatakan bahwa langkah Cina membangun fasilitas untuk tujuan militer di pulau-pulau buatan meningkatkan ketegangan dan membawa risiko militerisasi negara-negara pengklaim lain.

Dalam pernyataan yang dirilis menjelang tengah malam, Kamis (6/8), Kementerian Luar Negeri Cina mengatakan menteri luar negeri Filipina menyerang kebijakan Cina soal Laut Cina Selatan dan mendapat dukungan mitranya dari Jepang.

“Situasi di Laut Cina Selatan secara umum stabil, dan tidak ada peluang terjadinya bentrokan,” demikian pernyataan tersebut mengutip pernyataan Wang dalam forum tersebut.

“Cina menentang setiap pernyataan dan tindakan tak konstruktif yang akan memperlebar perpecahan, memperbesar antagonisme atau menciptakan ketegangan.”

Cina juga prihatin mengenai kebebasan pelayaran, namun saat ini tidak ada unsur-unsur yang menunjukkan bahwa hal ini tengah dikompromikan, katanya.

Cina merupakan korban sebenarnya dalam isu Laut Cina Selatan, kata Wang dalam forum itu, mengacu pada pernyataannya mengenai pendudukan beberapa pulau mereka di kawasan itu, termasuk oleh Filipina.

“Namun untuk mempertahankan dan menjaga perdamaian serta stabilitas Laut Cina Selatan, kami telah sangat menahan diri,” katanya.

Beralih ke Jepang, Wang mengatakan, negara itu telah membangun pulau terpencil di Pasifik yang dinamakan Okinotori untuk memperkuat klaim wilayah Jepang.

Cina sebelumnya menolak mengakui klaim Tokyo atas zona ekonomi eksklusif di sekitar Okinotori, yang terletak sekitar pertengahan antara Guam dan Taiwan, 1.700 km dari Tokyo. Pulau ini juga dikenali sebagai Karang Douglas atau Parace Vela.

“Sebelum mengkritik orang lain, Jepang harus terlebih dulu melihat baik-baik perkataan dan sikapnya,” kata Wang.

Proyek reklamasi dan pembuatan pulau artifisial Cina di Laut Cina Selatan bertujuan meningkatkan kondisi kehidupan dan menyediakan fasilitas seperti mercusuar dan stasiun-stasiun cuaca, imbuhnya.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL