peter humpreyShanghai, LiputanIslam.com — Pengadilan Cina di Shanghai, Jumat (8/8), menjatuhi hukuman penjara selama 2,5 tahun kepada Peter Humprey, seorang penyelidik asal Inggris yang bekerja di Cina, atas tuduhan memperdagangkan data pribadi. Pengadilan juga menghukum istri Humprey yang warga AS keturunan Cina, Yu Yingzeng, hukuman penjara selama 2 tahun.

Perusahaan farmasi GlaxoSmithKline (GSK) Cina, yang juga tengah menjalani penyelidikan atas dugaan penyuapan, mempekerjakan Humphrey sejak tahun lalu.

Kedua pasangan Humprey dinyatakan terbukti telah mendapatkan data-data pribadi warga Cina secara ilegal, dan menjualnya kepada perusahaan-perusahaan multinasional termasuk GSK.

Keduanya mengakui telah membeli informasi “background”, namun membantah mengetahui hal itu sebagai tindakan ilegal. Mereka diberi hak selama 10 hari untuk mengajukan keberatan.

Seorang pejabat pengadilan menyebutkan bahwa Humphrey akan dideportasi, namun menolak menyebutkan keterangan lebih rinci tentang hal itu, demikian laporan kantor berita Reuters.

Kasus yang menimpa Humprey tidak memiliki kaitan dengan tuduhan suap yang dilakukan perusahaannya bekerja, yang muncul tahun 2013 oleh sebuah e-mail yang dikirim oleh seorang “peniup peluit” (pembocor rahasia) di perusahaan itu.

Dalam e-mail tersebut disebutkan tim-tim marketing GSK menargetkan dokter-dokter berpengaruh di Cina dengan hadiah dan suap untuk memenangkan kontrak pembelian. E-mail itu dikirimkan kepada CEO GSK di London, Andrew Witty, dengan mengarahkan tuduhan kepada pimpinan GSK Cina, Mark Reilly. Kemudian, sebuah rekaman video yang menggambarkan hubungan gelap Reilly dengan pacarnya juga dikirimkan.

Penangkapan Humphrey dan istrinya sendiri terjadi setelah ia mengirimkan laporan kepada GSK.

GSK telah menyewa perusahaan detektif swasta CinaWhys, untuk mencari tahu pengirim e-mail dan rekaman tentang Reilly tersebut.

GSK mengatakan kepada Humphrey bahwa pihaknya mencurigai Vivian Shi, seorang mantan eksekutif GSK China yang diduga memiliki hubungan dekat dengan para pejabat Cina. Namun ia membantah sebagai pengirim e-mail.

Wartawan BBC di Shanghai menyebut pengadilan yang mengadili Humprey sebagai “dikendalikan partai komunis”, dan Humprey hanya sebagai korban permainan kotor.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL