jendral fangBeijing, LiputanIslam.com — Cina mengumumkan akan terus melanjutkan proyek pengeboran minyaknya di perairan Laut Cina Selatan yang telah menimbulkan ketegangan dengan negara tetangganya Vietnam. Ketegangan ini bahkan berbuntuk pada aksi-aksi kekerasan anti-Cina yang menewaskan dan melukai pekerja Cina.

Jendral senior dan komandan tertinggi militer Cina, Fang Fenghui dalam kunjungan di Washington, AS, menegaskan Kamis (15/5) bahwa Cina tidak akan mundur satu inci-pun dari wilayahnya, seraya menuduh Vietnam telah memprovokasi ketegangan di kawasan itu. Tidak hanya itu, Jendral Fang juga mengingatkan AS bahwa “perhatian yang lebih besar” AS terhadap kawasan Asia Timur hanya menambah ketegangan di kawasan itu.

Dalam aksi-aksi kekerasan anti-Cina beberapa hari terakhir setidaknya seorang pekerja Cina tewas dan ratusan lainnya mengalami luka-luka. Pada hari Selasa (12/5) 15 pabrik milik investor asing dibakar di kawasan industri Provinsi Binh Duong, Vietnam Selatan.

Aksi-aksi kekeraran tersebut dipicu oleh langkah Cina membangun fasilitas pengeboran minyak lepas pantai di kepulauan Paracel yang diklaim Vietnam sebagai wilayahnya. Dalam aksi tersebut sempat terjadi “perang air” antara kapal-kapal Cina dan Vietnam.

“Sudah sangat jelas, siapa yang melakukan langkah normal dan siapa yang menghancurkannya,” tambah Jendral Fang, menyindir pemerintah Vietnam yang dianggap sengaja menciptakan kerusuhan.

Ia menuduh “beberapa negara di kawasan” telah menjadi “pion” AS untuk menciptakan ketegangan di kawasan Asia. Jendral Fang selanjutnya meminta AS untuk bersikap netral terhadap ketegangan yang terjadi dengan Vietnam.

Sebaliknya Wapres Joe Biden, dalam pertemuan dengan Jendral Fang justru menyampaikan perhatian serius atas langkah Cina di Laut Cina Selatan.

“Apa yang kita lihat di Vietnam merupakan ungkapan kemarahan, sebagian terhadap Cina dan lebih tepat lagi pada sikap-sikap buruk para pemilik perusahaan. Ini adalah mimpi buruk bagi Partai Komunis Vietnam,” kata Biden.

“Sangt mudah untuk menuduh para demonstran sebagai pengkhianat,  di luar apa yang terjadi di Laut Cina,” tambah Biden.

Secara jelas Biden juga mengecam Cina atas langkahnya di Laut Cina Selatan.

“Tidak ada negara yang boleh melakun langkah provokatif untuk meningkatkan klaimnya atas wilayah sengketa, dengan cara yang bisa menghancurkan perdamaian dan kestabilan di kawasan,” kata Biden.

Sebelumnya, kantor berita Cina Xinhua melaporkan bahwa Menlu Cina Wang Yi telah menyampaikan kecamannya kepada Vietnam dalam pembicaraan telepon dengan Deputi Menlu Vietnam Pham Binh Minh.

Wang juga mendesak Vietnam untuk melakukan langkah serius untuk menjaga keselamatan harta dan jiwa warga Cina di Vietnam. Satu delegasi pejabat Cina juga telah dikirimkan ke Vietnam untuk melakukan pembicaraan.

Sementara itu Perdana Menteri Vietnam Nguyen Tan Dung menyebut aksi demonstrasi memprotes Cina sebagai tindakan legal. Namun ia menyatakan bahwa siapapun yang melanggar ketertiban harus dihukum, dan aktifitas bisnis asing harus dilindungi.

Dalam beberapa tahun terakhir Cina meningkatkan klaimnya atas beberapa wilayah perairan di Laut Cina Selatan, yaitu Kepulauan Spratley dan Kepulauan Paracel, memicu sengketa dengan negara-negara tetangganya terutama Filipina dan Vietnam.

Pada hari Jumat (16/5) kantor berita Cina melaporkan bahwa “Vietnam dan Filipina menyangka Cina dengan mudah digertak dengan tekanan,” namun mereka tidak menyadari bahwa “Cina adalah superpower”.

“Sengketa Laut Cina Selatan harus diselesaikan dengan cara damai, namun itu tidak berarti Cina akan diam di hadapan provokasi Vietnam dan Filipina,” tulis editorial media milik pemerintah Global Times.(ca/bbc/russia today)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL