uighurBeijing, LiputanIslam.com — Pemerintah Cina dikabarkan telah melarang para pejabat di Provinsi Xinjiang, yang mayoritas dihuni oleh warga muslim Uighur, untuk melaksanakan ibadah puasam Ramadhan.

Kantor berita Inggris BBC melaporkan, Kamia (3/7), beberapa departemen di Provinsi Xinjiang telah mengeluarkan larangan kepada pejabat dan pegawai untuk menjalankan ibadah puasa.

Salah satu situs resmi departemen yang melakukan larangan itu menyebutkan, “pegawai-pegawai negeri tidak boleh terlibat dalam puasa dan aktifitas agama lainnya.”

Langkah tersebut diambil di tengah langkah Cina menindas gerakan separatis muslim Uighur di Xinjiang, menyusul terjadinya aksi-aksi terorisme di provinsi itu.

Para aktifis menuduh pemerintah Cina telah membesar-besarkan ancaman gerakan separatis untuk menjustifikasi kebijakannya menindas hak-hak warga muslim Uighur.

Radio dan televisi milik pemerintah menyebutkan di situs-situs resminya bahwa larangan berpuasa dikenakan terhadap anggota partai komunis, guru-guru dan pemuda.

“Kami mengingatkan siapa saja bahwa mereka tidak diijinkan melakukan puasa Ramadhan,” tulis situs media-media tersebut.

Sementara itu dinas cuaca Xinjiang, sebagaimana dikutip AFP, menyatakan dalam situs resminya bahwa larangan puasa itu “sesuai dengan instruksi otoritas yang lebih tinggi.”

Sementara BBC melaporkan bahwa larangan ini bukan pertama kalinya dilakukan pemerintah Cina, di Xinjiang.

Di antara lembaga-lembaga pemerintah di Xinjiang yang mengeluarkan larangan puasa Ramadhan adalah dinas perdagangan dan sebuah rumah sakit pemerintah.

Untuk memperkuat larangan tersebut media-media pemerintah merilis editorial yang berisi kampanye negatif tentang puasa, yang disebut-sebut membahayakan kesehatan.

Para tokoh Uighur yang membantah keterlibatan warga Uighur dalam aksi-aksi kekerasan, menilai langkah pemerintah melarang puasa justru menambah sentimen negatif anti pemerintah di kalangan warga Muslim Cina.

Pada aksi kekerasan terakhir buan lalu, sebanyak 13 orang yang dikliam sebagai anggota kelompok militan Xinjiang tewas ditembak oleh aparat kepolisian setelah terjadinya serangan terhadap kantor polisi.

Uighur secara etnik adalah keturunan Turki. Sekitar 45% penduduk Xinjiang adalah warga Uighur, sementara dianeksasi oleh Cina tahun 1949, wilayah ini dihuni hampir seluruhnya oleh warga muslim Uighur.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL