qualcommBeijing, LiputanIslam.com — Perusahaan pembuat chip yang berbasis di AS, Qualcomm, harus membayar denda sebesar $975 juta atau sekitar Rp 12 triliun kepada Cina, setelah dinyatakan melanggar UU Anti Monopoli.

Penyelidikan atas tindakan pelanggaran itu dilakukan selama 14 bulan oleh otoritas pengawas perdagangan Cina. Ini adalah hukuman denda terbesar yang dijatuhkan kepada sebuah perusahaan di Cina. Selain itu Qualcomm juga diharuskan menurunkan tarif royalti yang dikenakan kepada perusahaan-perusahaan di Cina.

Para pengamat memperkirakan langkah tersebut akan sangat menguntungkan perusahaan-perusahaan produsen smartphone Cina seperti Xiaomi dan Huawei.

Qualcomm mengatakan, Senin (9/2), pihaknya tidak akan menolak hukuman tersebut.

“Meski Qualcomm kecewa dengan hasil penyelidikan, kami setuju bahwa NDRC (komisi nasional pembangunan dan reformasi) telah menyetujui rencana rektifikasi perusahaan,” kata Qualcomm dalam pernyataannya sebagaimana dikutip BBC News, Rabu (11/2).

Qualcomm merupakan perusahaan suplier chips smartphone terbesar di dunia. Kini perusahaan ini menurunkan tarif royaltinya sebesar 35% dari tarif semula. Sekitar 50% pendapatan Qualcomm di seluruh dunia berasal dari Cina.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL