kapal induk cinaBeijing, LiputanIslam.com — Cina tengah merencanakan akan mengirim kapal induknya berpatroli di wilayah sengketa di Laut Cina Selatan. Demikian seperti dilaporkan Sputnik News, Sabtu (30/1), mengutip keterangan seorang pakar politik dan inteligen.

Dalam laporan itu disebutkan bahwa Profesor Chu Shulong, Direktur Institute of International Strategic and Development Studies at Tsinghua University, Beijing, mengatakan kepada majalah kajian militer IHS Jane’s bahwa pengiriman kapal induk itu kemungkinan besar akan direalisasikan setelah kapal induk kedua Cina selesai dibangun.

“Untuk wilayah Laut Utara, Laut Kuning dan Laut Timur, Cina tidak memerlukan kapal induk karena bisa dijangkau oleh pesawat-pesawatnya yang tinggal landas dari daratan Cina,” kata Profesor Chu.

Namun tidak demikian dengan wilayah Laut Cina Selatan, dimana Cina terlibat perselisihan wilayah dengan sejumlah negara Asia Tenggara terkait kepemilikan beberapa kepulauan seperti Kepulauan Parcel dan Kepulauan Spratly.

“Jika Amerika mengirim kapal induk ke sana, Cina saat ini tidak memiliki kemampuan untuk menangkalnya,” tambah, menyebut pesawat-pesawat Cina membutuhkan waktu setidaknya 1 jam setelah lepas landas dari wilayah Cina yang terdekat, yaitu Pulau Hainan.

“Tantangan dari Amerika ini akan muncul sangat sering di masa mendatang,” kata Chu lagi.

AS berulangkali melakukan operasi ‘navigasi bebas’ yang melanggar wilayah yang diklaim Cina di Laut Cina Selatan. Pada bulan Oktober 2015 lalu kapal perang AS memasuki wilayah yang diklaim Cina di Kepulauan Spratly. Dan terakhir, pada minggu ini kapal destroyer AS, USS Curtis Wilbur memasuki perairan di dekat Pulau Triton di gugusan Kepulauan Parcel. Hal ini semakin meneguhkan niat Cina untuk mengirimkan kapal induknya. Demikian laporan itu menyebutkan.

Saat ini Cina tengah membangun kapal induk sendiri di galangan kapal Dalian Shipyard di Provinsi Liaoning. Adapun satu-satunya kapal indk Cina yang sudah beroperasi adalah ‘Liaoning’, bekas kapal induk Uni Sovyet yang dibeli Cina dari Ukraina pada tahun 1998.

Cina mengklaim sekitar 90% wilayah Laut Cina Selatan sebagai wilayahnya. Pada saat yang sama sejumlah negara seperti Indonesia, Filipina, Vietnam, Brunei, Malaysia, dan Taiwan, juga mengklaim sebagian wilayah yang diklaim Cina itu.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL