doctor_zhivago_2Washington, LiputanIslam.com — Sebuah berita mengejutkan datang dari Central Intelligence Agency (CIA). Lembaga intelijen Amerika Serikat tersebut mengakui bahwa mereka pernah menggunakan novel sastra sebagai alat propaganda. Novel itu adalah ‘Dr. Zhivago’ karya Boris Pasternak, novel klasik dari Rusia dan sudah beberapa kali meraih berbagai penghargaan.

CIA mengklaim telah menggunakan novel ini sebagai senjata dalam perang dingin, seperti dilaporkan Washington Post dan dilansir Reuters (6/4). Hal ini dibuka kepada publik oleh pihak CIA sendiri, saat dua peneliti Peter Finn dan Petra Couvee melakukan riset untuk buku mereka ‘The Zhivago Affair: The Kremlin, the CIA and the Battle Over a Forbidden Book,’ yang akan terbit Juni mendatang.

Salah satu memo CIA menyebut Dr. Zhivago memiliki nilai propaganda yang sangat tinggi. Tak cuma soal pesan instrisiknya, tapi juga pemikirannya yang sangat memprovokasi, belum lagi soal faktor waktu terbitnya yang sangat pas.

“Kami punya kesempatan untuk membuat rakyat Soviet berpikir apa yang salah dengan pemerintahan mereka. Terutama jika ada karya sastra besar dari seorang penulis Rusia yang masih hidup tapi malah tidak bisa dinikmati di negaranya sendiri, oleh masyarakat mereka sendiri dan dalam bahasa mereka sendiri,” demikian salah satu kutipan memo CIA untuk Finn dan Couvee seperti dikutip BBC.

Saat itu tentu saja CIA tidak mau kelihatan terlibat dalam pendistribusian 365 kopi buku itu. CIA juga berhasil menerbitkan buku ini dalam edisi mungil yang cukup bisa disimpan di saku. Ada pula edisi novel yang dipecah dalam dua jilid, agar mudah disembunyikan. Sejumlah anak muda Soviet dan Eropa Timur yang mengukuti konferensi anak muda di Vienna pada 1959 jadi agen penyebaran novel ini dari tangan ke tangan.

“Pesan humanis Pasternak, bahwa tiap orang memiliki kehidupan sendiri dan berhak mendapatkan kehormatan sebagai manusia, sangat bertentangan dengan ajaran sistem komunis tentang pengorbanan individu,” kata John Maury, kepala agen Divisi Soviet Rusia dalam memo itu pula.

Pemerintah Soviet pernah melarang peredaran novel itu. Sementara intelijen Inggrislah yang pertama kali mengenali nilai propaganda dalam novel itu pada tahun 1958. Inggris kemudian mengirimkan kepada CIA dua rol film yang mereka buat berdasarkan buku ini, dan meminta pihak Amerika untuk mengedarkan di Uni Soviet dan Eropa Utara.

Saat itu peredaran buku dan film ini membuat Moskow marah dan merasa dipermalukan. Rusia menyebut Pasternak sebagai pengkhianat dan menginstruksikan penerbit Soviet untuk tidak mencetak buku ini. Apalagi buku novelnya tergolong sukses, sementara versi filmnya yang digarap oleh David Lean pada tahun 1965, sampai memenangkan lima penghargaan Academy Award.

Novel epik romantis ‘Dr. Zhivago’ karya Boris Pasternak ini berkisah tentang kehidupan Yuri Zhivago seorang dokter dan pujangga. Juga tentang kisah cinta Zhivago dengan dua orang wanita selama beberapa dekade melewati revolusi, perang, perang sipil hingga penindasan komunis. Kisah ‘Dr. Zhivago’ mengandung unsur religi, mistikal.

Pasternak yang juga seorang penulis puisi, memenangkan hadiah literatur Nobel pada tahun 1958. Versi bahasa Inggris ‘Doctor Zhivago’ menguasai buku terlaris di New York selama enam bulan di tahun 1958-1959. Pasternak sendiri tetap tinggal di Rusia hingga kematiannya di tahun 1960 pada usia 70 tahun. Pasternak meninggal dunia karena masalah jantung dan kanker paru-paru.(ca/detiknews)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL