puncak-ciremaiJakarta, LiputanIslam.com — Chevron membantah telah membeli Gunung Ciremai sebagaimana santer beredar kabar di dunia maya akhir-akhir ini. Yang ada adalah proses tender.

Menurut Manager Policy Government Public Affairs PT Jasa Daya Chevron, Ida Bagus Wibatsya, tidak pernah ada proses pembelian yang dilakukan perusahaannya terhadap potensi panas bumi Gunung Ceremai, melainkan proses tender.

“Tidak ada proses pembelian, yang ada adalah proses tender,” tegas Ida Bagus kepada media nasional, Senin (3/3).

Dia menjelaskan, sejak didirikan, Chevron berkomitmen mengikuti seluruh aturan yang ditetapkan pemerintah dalam menjalankan usahanya di dunia, termasuk Indonesia. Dalam operasinya, Chevron berupaya melakukan konsultasi aktif kepada berbagai pihak.

“Dalam operasinya, Chevron selalu konsultasi aktif, baik dengan pemerintah pusat, daerah maupun pemangku kepentingan lainnya, khususnya masyarakat setempat,” ungkapnya.

Bagi perusahaan, lanjut Ida Bagus, sosialisasi yang transparan merupakan syarat mutlak agar pemerintah, masyarakat dan perusahaan dapat saling bekerja sama.

“Proses sosialisasi secara terbuka kepada masyarakat akan dilakukan setelah IUP dikeluarkan oleh Pemda Jabar yang direncanakan tahun 2014 ini,” tandasnya.

Perusahaan energi asal Amerika Serikat (AS), PT Chevron Indonesia melalui anak perusahaan PT Jasa Daya Chevron memenangi tender pemanfaatan panas bumi yang digelar oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Penetapan pemenang ini diumumkan pada 2012 lalu oleh panitia lelang Pemda Jabar.

Meski memenangi tender, perusahaan ini tidak begitu saja melaksanakan proyek tersebut. Pemda Jabar memberikan sejumlah syarat kepada PT Chevron Indonesia, salah satunya dengan melebur bersama Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).

Persyaratan itu menjadi satu-satunya syarat mutlak sebelum diterbitkannya Izin Usaha Pertambangan (IUP) oleh Pemprov Jabar. IUP inilah yang nantinya dipakai untuk menggarap wilayah kerja pertambangan (WKP) Gunung Ceremai.

“Sampai saat ini Chevron belum memasuki wilayah Ciremai dan belum melaksanakan kegiatan fisik, maupun komunikasi di lapangan karena belum terbitnya IUP ini,” bebernya.

Gubernur Sebut Isu Ciremai untuk Jegal Dirinya

Sementara itu Gubernur Jabar Ahmad Heryawan menyebut ada muatan politis di balik isu penjualan Gunung Ceremai, Kuningan, Jawa Barat. Sebab, isu yang bergulir sejak lama itu kembali muncul di tengah upayanya untuk menjadi Capres dari PKS .

“Iya, isu lama, karena mungkin ada Capres (Calon Presiden) kelihatannya,” kata pria yang akrab disapa, Aher kepada wartawan di Bandung, Senin (3/3).

Namun menurutnya itu tidak terlalu menjadi penting, karena yang harus diutamakan ketika isu tersebut dengan cepat menyebar, akan membuat masyarakat resah.

Kembali ditegaskan, kata dia, jual beli gunung itu tidak dimungkinkan.

“Mana ada Undang-undang membolehkan jual gunung. Itukan milik negara dan tidak boleh diperjualbelikan,” tandasnya.

Pasangan dari Wagub Deddy Mizwar itu meminta agar kepolisian bisa mengusut isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. “Itu hoax dan berita bohong, masyarakat dibuat resah karena berita bohong,” ujarnya.

“Kita harus ambil langkah ‘lah, itu sangat jahat dan keji harus ditindak. Kepolisian siap, Undang-undang ITE ada. Yang jelas tanpa harus menjelaskan detil itu bohong. Betul-betul itu orang iseng, isu tidak bertanggung jawab,” jelasnya berang.(ca/merdeka.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*