LiputanIslam.com – Direktur Eksekutif Charta Politika, Yunarto Wijaya, membuka cara proses kerja lembaga quick countnya yang ternyata lebih sederhana daripada survei.

“Kenapa (lebih sederhana)? Karena sebetulnya ketika bicara data yang masuk itu hanya rekap C1 plano yang dilampirkan dan kemudian dimasukkan dalam sebuah sistem lewat aplikasi, ditabulasi, kemudian menjadi sebuah angka di level nasional,” ucap Yunarto sebagaimana yang dilansir Kompas pada Senin (29/4).

Ia menambahkan bahwa lembaganya mengambil sampel 2.000 TPS secara random (acak) proporsional dari total TPS yang ada di seluruh Indonesia. Sejumlah sampel itu kemudian ditarik menggunakan stratified cluster random sampling. Tingkat kepercayaan yang didapat bisa sampai 99 persen dengan margin kesalahan 1 persen.

“Skema kerjanya sederhana. Pertama, randomisasi terhadap TPS dengan jumlah TPS yang ditentukan di awal, misalkan kalau dengan 2.000 mewakili total 813.000 TPS, dengan angka itu saja bisa mendapatkan tingkat kepercayaan 99 persen dan margin of error 1 persen,” tambahnya.

“Kalau C1 plano kan sifatnya absolut, sehingga kemudian selama sampling dilakukan dengan cara benar, harusnya peluang terjadi kesalahan sangat kecil masih dalam konteks margin of error,” lanjutnya lagi.

Lembaga Charta Politika mengaku menyebarkan relawannya ke 2.000 TPS. Relawan memonitor langsung lapangan TPS dari mulai buka pemungutan suara sampai penutupan penghitungan suara. Menurutnya 2.000 TPS sudah cukup mewakili tingkat nasional karena setiap TPS mewakili karakter yang beragam. (Ayu/Kompas)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*