hebdoJakarta, LiputanIslam.com — Serangan atas kantor majalah Perancis Charlie Hebdo yang menewaskan 12 orang, menuai reaksi keras dari tokoh-tokoh di Indonesia. Seperti diketahui, Charlie Hebdo adalah Charlie Hebdo merupakan tabloid satir yang kerap mengomentari isu-isu politik dan agama dalam kemasan humor. Redaksi tabloid yang berdiri sejak 1969 itu terkenal kerap menghina simbol agama, baik itu Islam, Kristen, maupun Yahudi. (Baca: Serangan atas Charlie Hebdo, Cui Bono?)

Jusuf Kalla: Tingkatkan Kewaspadaan

Wakil Presiden Jusuf Kalla mengaku prihatin atas aksi penembakan di kantor Charlie Hebdo. Ia menyatakan tindakan itu tak dapat dibenarkan.

“Ya tentu pemerintah merasa prihatin dan tentu setiap yang begitu kita tidak benarkan. Apapun, di manapun, di Indonesia kita melawan itu. Tentu negara-negara lain juga menolak,” papar JK di kantornya, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Kamis, 8 Januari 2015 seperti dilansir merdeka.com.

JK mengatakan, setiap negara harus meningkatkan kewaspadaan, termasuk Indonesia, terlebih lagi setelah aksi serupa belum lama terjadi Australia. Namun Indonesia tidak perlu mengeluarkan travel warning bagi WNI di Prancis lantaran JK yakin pemerintah Prancis mampu mengatasi persoalan tersebut.

“Kita gak begitu, kita yakin negara-negara masing-masing bisa mengatasi. Masalah teror ada di mana-mana, kalau gitu kita keluarkan travel warning seluruhnya. Amerika kena, Inggris kena, Prancis kena, kita saja pernah kena, Rusia kena, Afrika, seluruhnya dunia,” tutur JK.

Kemenlu Sampaikan Belasungkawa

indonesia perancisKementerian Luar Negeri, mengucapkan belasungkawa yang sebesar-besarnya kepada pemerintah dan rakyat Prancis, khususnya terhadap keluarga para korban. (Baca: Sebuah Masjid di Perancis Dilempar Granat)

“Tindak kekerasan dengan alasan apapun tidak dapat dibenarkan. Pemerintah Indonesia mendukung upaya Pemerintah Perancis menangkap dan mengadili para pelaku,” tulis Kemenlu.

Kemenlu telah berkoordinasi dengan Kedutaaan Besar Republik Indonesia di Paris. Tidak ada korban warga negara Indonesia dalam tragedi tersebut. Tapi ada kemungkinan sentimen anti muslim akan cukup meningkat di Negeri Anggur. Alhasil, WNI muslim diharap berhati-hati.

“Pemerintah Indonesia mengimbau kepada segenap warga negara Indonesia yang berada di Perancis untuk dapat menghindari tempat-tempat keramaian, dan menghubungi perwakilan Indonesia (KBRI Paris dan KJRI Marseille) yang berada di wilayah masing-masing sekiranya membutuhkan bantuan,” tulis Kemlu.

MUI Kutuk Aksi Penyerangan

Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengutuk serangan terhadap media satir Charlie Hebdo di Prancis. “MUI mengutuk tindakan pembunuhan terhadap awak media di Prancis itu, karena tindakan itu bertentangan dengan nilai kemanusiaan dan ke-Islaman yang ‘blessing for all’,” kata Ketua MUI bidang Hubungan Luar Negeri dan Hubungan Internasional, Muhyidin Junaidi di kantornya, Menteng, Jakarta, Kamis, 8 Januari 2015. (Baca: Charlie Hebdo dan Standar Ganda Terorisme)

Muhyidin menambahkan, tindakan yang dilakukan para pelaku serangan itu tidak mewakili umat Islam secara keseluruhan, meski mereka mengucapkan ‘Allahu Akbar’ sebelum menembak. Sebab, menurut dia, umat Islam tidak berhak melakukan tindakan menghilangkan nyawa.

“Terkait isi media mereka kami juga keberatan meski mereka mengatasnamakan kebebasan berekspresi. Tetapi jika protes isi majalah itu dilakukan dengan pembunuhan seperti penembakan itu tentu bukan cara umat Muslim bertindak, karena sejatinya protes dapat dilakukan lewat ranah hukum. Ajaran Islam, memiliki batas-batas dalam berekspresi. Islam memiliki batasan mana boleh mana tidak. Ada hal-hal sakral seperti tentang nabi,” kata dia.

Prabowo Subianto Kutuk Serangan

Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Prabowo Subianto mengutuk dan mengecam keras serangan terhadap tabloid satir Charlie Hebdo yang menewaskan 12 orang. Mantan Danjen Kopassus ini menyebut peristiwa itu sebagai tindakan biadab.

“Saya bersama keluarga besar Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) mengutuk, dan mengecam peristiwa teror yang mengakibatkan 12 orang tertembak mati pada hari Rabu, 7 Januari 2014 di kota Paris, Perancis. Penembakan terhadap orang yang tidak bersenjata adalah tindakan biadab,” tegas Prabowo dalam akun Facebook-nya, Kamis, 8 Januari 2015.

Atas peristiwa yang disebut sebagai serangan teroris paling mengenaskan tersebut, Prabowo menyampaikan rasa belasungkawa terhadap para korban. Bagi dia, cara mengatasi perbedaan pendapat bukan dengan mengangkat senjata, tapi bisa diselesaikan secara demokratis.

“Kami berpendapat bahwa setiap perbedaaan pendapat ataupun pertentangan politik hendaknya diselesaikan secara musyawarah dan damai. Pada hari yang penuh duka ini, kami pun menganjurkan seluruh rakyat Indonesia agar senantiasa menjunjung tinggi asas penyelesaian perbedaan pandangan politik tanpa menggunakan kekerasan dan agar waspada akan usaha-usaha menghasut kebencian kepada kelompok tertentu,” imbaunya. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*