tegalTegal, LiputanIslam.com — Budayawan sekaligus pelopor pelestarian bahasan Tegal, Yono Daryono, mengaku sangat kecewa dengan keputusan Pemerintah Kota Tegal yang akan menggunakan bahasa Indonesia dalam upacara hari jadi Kota Tegal ke 434, Sabtu mendatang (12/4).

“Ini kemunduran yang sangat berbahaya bagi kelestarian bahasa Tegal di kampung halamannya sendiri,” ujarnya kepada media, Kamis (10/4).

Yono mengatakan, para seniman dan budayawan asli Tegal terus memperjuangkan bahasa Tegal agar tidak punah. Sebab, tidak jarang generasi muda asal Kota Tegal malu menggunakan bahasa ibunya lantaran terkesan udik.

“Bahasa Tegal selalu dinomorduakan. Maka itu kami telah menyelenggarakan Kongres Bahasa Tegal pada 2006,” ujarnya.

Salah satu rekomendasi dari kongres itu yang telah dilakukan Pemerintah Kota Tegal adalah penggunaan bahasa Tegal dalam upacara peringatan hari jadi Kota Tegal.

“Kok sekarang malah dihilangkan. Mustinya Wali Kota Tegal belajar menjadi warga Tegal dan turut melestarikan bahasa Tegal.

Pemerhati budaya Tegal, Abidin Abror, juga berpendapat serupa. “Wali Kota Tegal semestinya tetap menggunakan bahasa Tegal dalam sambutannya di upacara hari jadi Kota Tegal,” kata Abidin.

Meski dia memaklumi Wali Kota Tegal bukan putri daerah, Abidin berujar, Bagian Humas Kota Tegal tetap bisa menuliskan pidato sambutan dengan bahasa Tegal. “Daerah lain saja banyak yang meniru Kota Tegal, upacara menggunakan bahasa ibu,” ujarnya.(ca/tempo.co)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*