debt-collectionJakarta, LiputanIslam.com — Bank Negara Indonesia (BNI) mengakui menggunakan jasa “debt collector” yang terlibat aksi penganiayaan nasabah baru-baru ini. Namun mereka menolak mengetahui motif dari penganiayaan yang dilakukan “debt collector”nya.

“BNI menggunakan jasa pihak ketiga untuk menyelesikan tunggakan-tunggakan kartu kredit yang memang sudah macet,” kata Sekretaris Perusahaan BNI, Tribuana Tunggadewi, kepada media, Selasa (15/4).

Tribuana Tunggadewi, mengatakan, kasus pemukulan penagih utang terhadap nasabah diserahkan ke pihak kepolisian. Menurutnya, BNI tidak akan mencampuri proses hukum yang sedang ditangani oleh Polres Jakarta Barat tersebut. “Itu ranah hukum, kami tidak akan ikut campur,” katanya kepada media, Senin (14/4).

Tribuana mengatakan, pemukulan yang dilakukan oleh Phonce, penagih utang yang disewa BNI, jelas bertentangan dengan tata cara yang diinginkan oleh BNI. Dia mengatakan, perusahaan pelat merah itu tidak pernah menyetujui cara-cara penagihan utang melalui jalan kekerasan. Karena itu, dia menyatakan pelaku harus mempertanggungjawabkan perbuatannya tersebut. BNI, kata dia, tidak pernah mentolerir aksi kekerasan yang dilakukan oleh penagih utang tersebut.

“Jadi kalau ada tindak kekerasan, itu di luar tanggung jawab kami,” ujar dia.

Sementara itu Agustinus, korban penganiayaan oleh “debt collector” BNI kepada media menjelaskan peristiwa itu bermula dari tagihan kartu kredit Bank BNI yang dia terima pada 28 Februari 2013 lalu. Saat itu dia menerima tagihan sebesar Rp 12 juta dari penggunaan kartu gesek tersebut. Dia pun meminta penjelasan detail atas tagihan itu.

Menurut dia, pihak bank memberikan keringanan pembayaran tagihan. Dia pun cuma diharuskan membayar uang sebesar Rp 8 juta. Karena sudah mendapat potongan, dia segera melunasi pembayaran tersebut. Proses pembayaran kartu kredit itu pun dianggap sudah selesai.

Namun, pada awal Maret 2014 lalu, dia kembali menerima tagihan sebesar Rp5 juta. Padahal dia mengaku tidak menggunakan kartu kredit dan tidak pernah ada tagihan apa-apa sebelumnya. “Karena semua sudah dilunasi dan tidak ada tagihan lagi,” ujarnya.

Pada Kamis, 3 April 2014, dia pun memutuskan mendatangi BNI cabang Kota Tua, Tamansari, Jakarta Barat, untuk meminta penjelasan. Dia diterima oleh Riki dari pihak bank dan membahas masalah tersebut. Sekitar pukul 17.00 WIB, dia hendak pulang menggunakan sepeda motor miliknya.

Saat akan pulang, dia dipukul oleh seorang laki-laki berbadan tegap di bagian rahang hingga jatuh tersungkur. Agustinus kemudian mengaku diseret ke lantai 3 gedung tersebut untuk membicarakan masalah kartu kredit itu. “Saya melihat ada Riki juga di belakang orang yang memukul saya,” katanya.

Dia sempat beberapa lama berada di dalam gedung tersebut. Beruntung, ada seorang satpam yang menyelamatkan dirinya dari ruangan tempat dia ditahan. Melalui bantuan satpam itu, Agustinus pun berhasil menyelamatkan diri melalui pintu belakang gedung bank.

“Saya yakin yang memukuli saya itu “debt collector”,” katanya. Agustinus pun langsung melaporkan peristiwa itu ke Kepolisian Resor Jakarta Barat. Laporan itu dimasukkan atas penganiayaan yang dia terima.

Kepala Subbagian Humas Polres Jakbar Komisaris Herru Julianto membenarkan laporan tersebut. Dia mengatakan polisi menerima pengaduan itu pada 5 April 2014.

“Dan saat ini kasusnya ditangani oleh Satuan Reserse dan Kriminal,” katanya.(ca/tempo.co)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL