tentara turkiLiputanIslam.com — Ada kerisauan besar di antara para pejabat Turki terkait dengan konflik di Irak yang kini tengah mengalami titik balik, dengan pasukan dan milisi-milisi Irak yang dibantu Iran kini berhasil menguasai keadaan.

Dengan Iran yang berhasil menancapkan pengaruh kuatnya di Irak dan Kurdistan Irak, Turki relatif justru kehilangan wibawanya di mata bangsa Irak dan Kurdi karena tidak ada peran sedikit pun yang diberikan Turki untuk membantu mengusir kelompok teroris ISIS.

Turki dikabarkan kini tengah mempersiapkan diri untuk terlibat dalam pembebasan kota Mosul, Irak utara yang relatif berdekatan dengan perbatasan Turki. Setelah Iran memainkan peran penting dalam pembebasan Tikrit dan kota-kota di wilayah selatan dan timur Irak, Turki tidak ingin kehilangan andil dalam pembebasan Mosul, bila tidak ingin pengaruhnya lenyap di Irak.

Turki, negara besar dan berpengaruh di kawasan, tentu saja tidak ingin kekhawatiran kehilangan pengaruh akan menjadi kenyataan. Turki sudah nyaris kehilangan pengaruh di Suriah setelah gagal menggulingkan Presiden Bashar al Assad bersama-sama AS dan sekutu-sekutu regionalnya. Turki juga sudah kehilangan pengaruh di Mesir setelah sekutunya, Mohammad Moersi, terdepak dari kekuasaan tahun 2013. Maka, kini Turki akan berjuang sekuat tenaga untuk tidak kehilangan pengaruh di Irak, setidaknya di wilayah Irak utara yang berdekatan dengannya.

Atau Turki akan menjadi negara pariah di kawasan. Dan hal itu tentu sangat mengkhawatirkan Presiden Turki Recep Erdogan yang dikenal sebagai figur ambisius.

Hal itu dikatakan oleh Menhan Turki Ismet Yilmaz, saat berkunjung ke Baghdad dan kemudian ke Irbil di Kurdistan Irak, baru-baru ini.

“Turki telah mulai aktif memberikan kontribusinya ke koalisi (internasional). Ketika waktunya tiba, Turki akan melakukan penilaian dan langkah sesuai dengan kepentingan nasional kami sekaligus memenuhi tanggungjawab sebagai anggota koalisi,” kata Yilmaz saat itu.

Padahal Turki diketahui pada awalnya sangat enggan untuk bergabung dengan koalisi internasional pimpinan AS dalam kampanye anti-ISIS yang dibentuk tahun lalu.

Kemudian, dalam konperensi pers di gedung parlemen Turki hari Minggu (22/3), menjawab pertanyaan wartawan tentang kemungkinan keterlibatan langsung militer Turki dalam pertempuran darat di Irak, Yilmaz mengatakan bahwa Turki telah siap untuk memainkan peran tersebut dengan dukungan komitmen semua pihak.

Beberapa hari sebelumnya, dalam kunjungan Wapres Irak Osama al-Nujaifi di Turki, Recep Erdogan mengungkapkan perhatian Turki atas Irak, yang menurutnya “membutuhkan peran kami (Turki) untuk melakukan langkah-langkah dan tindakan-tindakan kerjasama untuk mendukung Irak dalam perang melawan terorisme. Kami akan membantu tentara Irak dengan pelatihan dan peralatan.”

Pernyataan Menhan Turki Ismet Yilmaz itu muncul setelah Athil al-Nujaifi, Gubernur Provinsi Nineveh, mengatakan kepada wartawan bahwa Turki telah memutuskan untuk terlibat dalam operasi militer bersama merebut Mosul dari tangan ISIS.”

“Turki akan berpartisipasi dengan dukungan militer dan logistik untuk membantu pengambil-alihan Mosul,” kata al-Nujaifi sebagaimana dilansir oleh media Kurdi yang terbit di kota Erbil.

Para pengamat percaya bahwa ‘turun gunung’-nya Turki di Irak, setelah hampir setahun pasif mendukung pemerintah Irak memerangi ISIS, didorong oleh sentimen agama selain politik. Setelah Iran yang Shiah memainkan peranan signifikan dalam pembebasan Tikrit dan wilayah Irak lain dari ISIS, tidak ada negara Sunni yang memberikan peran yang signifikan terhadap Irak.

Sumber-sumber di pemerintahan Irak menyebutkan bahwa Turki, Yordania dan negara-negara Arab Teluk telah melobi pemerintah Irak untuk dilibatkan dalam operasi pengambil-alihan kembali kota Mosul.

Namun ‘proposal’ Turki itu bukan tanpa penentangan oleh Irak. Politisi koalisi Negara Hukum Saad al-Matlabi dengan tegas menolak keterlibatan Turki di Nineveh, dengan alasan Turkilah yang selama ini justru mendukung ISIS dan kelompok-kelompok teroris di Irak dan Suriah.

“Ada upaya-upaya Turki untuk terlibat dalam pertempuran melawan ISIS, yang terbaru adalah usulan Turki dan Yordania untuk mengerahkan 20.000 pasukan guna merebut Nineveh,” kata Saad kepada media Lebanon Al Akhbar baru-baru ini.

Matlabi menambahkan bahwa keinginan Turki itu ditolak pemerintah Irak karena dianggap hanya sebagai pengalih tuduhan keterlibatan Turki dalam ‘petualangan’ ISIS.

“Turki adalah sumber masalah yang terjadi di Irak dan Suriah saat ini, jadi tidaklah logis baginya untuk terlibat dalam pembebasan wilayah-wilayah dari terorisme,” tambah Saad.

Hal yang sama dikatakan oleh Ihsan al-Shammari, pakar politik dari Universitas Baghdad yang menyebutkan bahwa usulan Turki itu sebagai upaya untuk unjuk gigi kepada Iran, yaitu bahwa Turki masih berpengaruh di Irak, khususnya di wilayah utara yang berbatasan dengan Turki.

Para pengamat politik dan keamanan Timur Tengah memperkirakan, jika disetujui pemerintah Irak, Turki akan mengirimkan senjata-senjata ringan dan medium dan satu hingga dua brigade dalam operasi pembebasan Provinsi Nineveh dengan ibukotanya, Mosul.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*