polisi fergusonFerguson-Missouri, LiputanIslam.com — Polisi mengerahkan kekuatannya secara maksimal untuk mengendalikan aksi kerusuhan yang melanda Ferguson, Missouri, menyusul terjadinya penembakan terhadap seorang warga kulit hitam oleh polisi.

Selama empat malam terakhir, polisi bersenjata lengkap bentrok dengan demonstran yang marah oleh kematian pemuda kulit hitam Michael Brown dalam sebuah insiden oleh tembakan polisi, Sabtu (9/8) sore. Demikian laporan BBC News.

Gubernur Missouri Jay Nixon menyebut akibat bentrokan-bentrokan itu wilayah di sekitar pinggiran kota telah berubah menjadi “medan perang”. Sementara Presiden Barack Obama mendesak polisi untuk “tidak mengunakan kekuatan secara berlebihan”.

“Kami akan meraih kembali kepercayaan,” kata gubernur.

Pada Rabu malam (13/8), polisi bersenjata berat menembakkan gas air mata kepada demonsgtran yang menolak membubarkan diri. Beberapa orang ditangkap, 2 di antaranya jurnalis yang mengklaim mengalami tindakan keras polisi sebelum akhirnya dilepaskan kembali.

Dalam sebuah konperensi pers akhir pekan lalu, Presiden Obama mengatakan tidak ada “maaf” bagi polisi yang menggunakan kekuatan berlebihan terhadap demonstran damai. Namun polisi juga berhak melakukan tindakan keras terhadap pelaku aksi kekerasan.

“Tidak pernah ada maaf bagi tindakan kekerasan melawan polisi atau siapapun yang menggunakan tragedi ini untuk menutupi aksi vandalisme dan penjarahan,” kata Obama menyinggung aksi-aksi penjarahan yang terjadi di sela-sela kerusuhan di Ferguson.

Obama menjanjikan penyelidikan oleh Kejaksaan Agung dan kepolisian federal telah memulai penyelidikan atas insiden tewasnya Brown.

Sementara itu Jaksa Agung Eric Holder mengatakan bahwa pengunaan peralatan dan kendaraan militer menghadapi demonstran menimbulkan “pesan yang berlawanan”.

Holder menambahkan bahwa kepolisian negara bagian Missouri telah menerima tawaran “bantuan teknis” dari pemerintah federal demi “melakukan pengendalian massa dan menjaga keselamatan publik tanpa mengandalkan penggunaan kekuatan yang berlebihan”.

Berbagai laporan yang simpang siur muncul atas kematian Michael Brown (18 tahun). Beberapa saksi mata mengatakan ia telah menyerah kepada polisi dengan mengangkat tangannya sebelum ditangkap dan kemudian ditembak berulang-ulang oleh petugas polisi.

Namun polisi membantah tuduhan itu dan menyebutkan, telah terjadi pergulatan antara petugas polisi dengan Brown, hingga petugas mengalami luka-luka di wajahnya.

Polisi menolak memberikan nama petugas polisi yang terlibat penembakan dengan alasan keamanan dirinya dan keluarganya. Namun hal ini justru memicu kemarahan warga kulit hitam yang merupakan penduduk mayoritas di Ferguson, sementara mayoritas polisi adalah kulit putih.

Kepala polisi Ferguson Thomas Jackson menyebutkan sejumlah polisi mengalami luka serius akibat bentrokan dengan demonstran. Ia menyebutkan demonstran melemparkana bom api ke arah polisi dan seorang polisi mengalami patah tulang setelah tertimpa conblock.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL