Foto:A Palestinian protester dressed in a Santa Claus costume argues with a member of the IOF during a demonstration against the illegal Israeli settlements and demanding for free movement for the Palestinians during the Christmas period near a checkpoint in the occupied West Bank biblical city of Bethlehem on December 23, 2014. AFP / Musa al-Shaer

Foto: A Palestinian protester dressed in a Santa Claus costume argues with a member of the IOF in the occupied West Bank biblical city of Bethlehem on December 23, 2014. AFP / Musa al-Shaer

Tepi Barat, LiputanIslam.com — Empat warga Palestina terluka saat Israeli Occupation Forces (IOF) menembaki para pengunjuk rasa di Tepi Barat.  Sementara itu, 15 orang lainnya ditangkap. Demonstran yang terluka adalah Yusra Mohammed al-Haj al-Abd, 72 tahun, dan  Jumana Ahmed Shayib, 48 tahun, terluka oleh peluru ‘spons’ di desa Farun. Dari keterangan al-akhbar.com, 27 Desember 2014, peluru ‘spons’ terbuat dari plastik berkualitas tinggi dengan busa karet, yang dimentahkan dari senjata pelontar granat.

Juru bicara Israel mengatakan bahwa pasukan IOF memasuki desa-desa yang termasuk dalam kontrol Otoritas Palestina, untuk melakukan patroli rutin. Namun ketika hendak meninggalkan tempat, penduduk dilaporkan melempari mereka dengan batu.

“Karena itulah pasukan IOF menembak dua wanita yang diduga melempari pasukan,” jelas jubir Israel.

Ia menambahkan, bahwa pasukan IOF menembak di tubuh bagian bawah korban. Sedangkan keterangan dari Ma’an News Agency, korban penembakan mengalami luka pada tubuh bagian atas saat  dilarikan di rumah sakit.

Di tempat terpisah, pasukan Israel juga menembaki dua pemuda Palestina dengan peluru ‘spons’ dalam bentrokan di kota al-Khalil Beit Ummar.

Menurut keterangan dari juru bicara Komite Perlawanan Rakyat di Beit Ummar, Mohammed Ayyad Awad, dua pemuda Palestina tersebut, menderita luka-luka di kepala dan tangan akibat serangan pasukan IOF. Awad menambahkan bahwa bentrokan pecah setelah pasukan Israel menyerbu, yang memicu pemuda Palestina melemparkan batu pada tentara sebagai tanda protes.

Seperti diketahui, al-Khalil adalah daerah yang dihuni oleh sekitar 160.000 warga Palestina, dan sekitar 500 warga Zionis Israel tinggal di pemukiman ilegal kota itu yang dijaga ketat oleh pasukan Israel.

Pemukim Zionis ini, tinggal di kota Al-Khalil Tua sesuai dengan perjanjian pada tahun 1997, yang membagi kota menjadi dua wilayah. Wilayah H1 berada di bawah kendali Otoritas Palestina sementara H2 ada di bawah pendudukan Israel.

Sejak September 2000, setelah Intifada Kedua, setidaknya 9.100 warga Palestina tewas oleh serangan Israel, termasuk diantaranya,  2.053 anak-anak. Artinya, ada satu anak Palestina yang dibunuh setiap tiga hari selama 14 tahun terakhir.

Dan menurut Kementrian Palestina, ada lebih dari 7.000 warga Palestina saat ini mendekam di penjara-penjara Israel dan 17 kamp-kamp penahanan. Diantara jumlah tersebut, ada 18 perempuan, 250 anak-anak, 1.500 tahanan yang sakit dan dalam kondisi kritis, serta sekitar 540 warga Palestina ditahan di bawah penahanan administratif tanpa adanya proses pengadilan. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL