Foto: Al-Akhbar

Foto: Al-Akhbar

Manama, LiputanIslam.com — Demonstrasi yang digelar  sebagai reaksi atas ditahannya Syeikh Ali Salman, seorang ulama yang memimpin partai oposisi al-Wefaq, Bahrain, berujung ricuh.  Para demonstran terlibat bentrokan dengan pasukan keamanan yang menembakkan gas air mata.

Seperti diketahui, Salman ditangkap setelah memimpin aksi damai dekat ibukota Manama untuk memprotes pemilihan umum November lalu. Saat itu, partai oposisi al-Wefaq memboikot jalannya pemilu.

Dari laporan al-akhbar, 10 Januari 2014, ratusan pria dan wanita turun ke jalan di wilayah Sitra untuk berujuk rasa, namun akibat bentrok dengan aparat, sedikitnya 5 orang telah terluka.

Sebelumnya, jaksa penuntut umum menuduh Salman melakukan beberapa pelanggaran, termasuk menghasut orang untuk menggulingkan pemerintah. Salman lalu dijebloskan ke dalam tahanan sambil menunggu penyelidikan lebih lanjut.

Amnesti Internasional menyatakan bahwa penangkapan dan penahanan Salman merupakan pelanggaran atas hak kebebasan berkekspresi, berserikat dan berkumpul. Karena itu, lembaga ini menyerukan kepada pihak berwenang di Bahrain untuk membebaskannya tanpa syarat.

Salman dianggap oposisi yang moderat, karena mendorong untuk dibentuknya monarki konstitusional, bukan menghendaki mundurnya rezim Al-Khalifa.

“Kami menghendaki sebuah negara monarki konstitusional di mana al-Khalifa tetap menjadi raja,” kata Salman, kepada AFP, Mei 2011.

Salman juga dikenal sebagai tokoh politik nasional yang selalu menyerukan dialog damai, sebagaimana yang tertuang dalam The Non-Violence Principles Declaration.

Saat ini, berbagai negara di seluruh dunia turut mengecam penangkapan Salman. Lebih dari 37 organisasi hak asasi manusia internasional menuntut agar ia segera dibebaskan.

Bahrain, yang merupakan sekutu dari negara-negara Barat berada dalam kondisi tidak stabil pasca munculnya demonstrasi besar-besaran pada tahun 2011. Mayoritas rakyat Bahrain, menuntut reformasi.

Dengan dukungan dari Arab Saudi, Dinasti Al-Khalifa telah memerintah Bahrain lebih dari 200 tahun. Tak hanya dukungan politik, Arab Saudi dan beberapa negara Teluk lainnya turut mengirim pasukan guna membantu Al-Khalifa menghadapi unjuk rasa yang digelar masyarakat. Sekitar 89 orang dilaporkan tewas, dan ratusan lainnya ditangkap sejak aksi demonstrasi ini meletus pada tahun 2011. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*