MH 17 Evidence iiiAmsterdam, LiputanIslam.com — Pemerintah Belanda menolak membuka isi perjanjian antar negara-negara anggota tim penyelidikan internasional kecelakaan pesawat Malaysia Airlines MH17. Jika salah satu negara anggota tim tidak menghendaki hasil penyelidikan untuk dibuka ke publik, maka hal itu akan tetap dirahasiakan.

Sebagaimana dilaporkan Russia Today, Jumat (21/11) lalu penerbit terkenal Belanda Elsevier telah mengajukan tuntutan kepada Kementrian Kehakiman Belanda untuk membuka isi perjanjian tim penyidik internasional (Joint Investigation Team/JIT) dan 16 dokumen lainnya. Tuntutan diajukan berdasar UU kebebasan informasi.

JIT terdiri dari 4 negara: Belanda, Belgia, Australia dan Ukraina. Mereka-lah yang selama ini melakukan penyelidikan atas kecelakaan pesawat MH17. Namun, uniknya, Malaysia sebagai pemilik pesawat dan penanggung korban terbesar tidak turut serta dalam tim tersebut.

Salah satu poin dalam perjanjian itu menjamin ke-empat negara untuk menjaga kerahasiaan. Ini berarti, jika salah satu pihak tidak menghendaki dibukanya sebagian atau keseluruhan bukti, maka bukti-bukti itu akan tetap dirahasiakan.

“Tentu saja  ini adalah situasi yang luar biasa. Bagaimana Ukraina, salah satu pihak yang dicurigai (sebagai pelaku penembakan) diberikan hak seperti ini?” Kata warga Belanda Jan Fluitketel kepada Malaysia Today.

Meski kecelakaan telah terjadi 4 bulan lebih, hingga kini masih sangat sedikit informasi yang diberikan oleh tim penyelidik tentang penyebab jatuhnya pesawat.

“Bahkan, Menteri Kehakiman Belanda kini lebih sibuk untuk menyembunyikan wajah negara-negara anggota tim penyidik,” tulis Russia Today.

“Saya percaya bahwa kepentingan ini (hubungan internasional antar anggota tim) jauh lebih penting daripada membuka informasi tentang penyelidikan, karena ini adalah penyelidikan yang sangat unik dan serius,” kata Menteri Kehakiman Belanda menurut keterangan Elsevier.

Anggota parlemen Belanda Pieter Omtzigt dari Partai Demokratik Kristen, telah berulangkali mengajukan tuntutan agar penyelidikan diumumkan ke publik.

“Saya tidak tahu, komitmen apa yang dilakukan pemerintah Belanda. Pemerintah tidak membuka isi perjanjian ketika kami minta, atau ketika di depan parlemen,” katanya.

Yang lebih parah lagi, menurut Pieter, pemerintah Belanda bahkan pada awalnya berusaha menyembunyikan keberadaan perjanjian ini.

Malaysia sendiri yang menjadi satu-satunya negara yang telah mengadakan kontak langsung dengan pemberontak Ukraina pengausa wilayah jatuhnya MH17, merasa kecewa bahwa pihaknya tidak dilibatkan dalam penyelidikan. PM Belanda Mark Rutte telah terbang ke Malaysia 5 November lalu, namun Malaysia mengatakan belum mendapatkan informasi yang penting atau sekedar undangan menjadi anggota penyelidik.

“Pertama, kami harus dimasukkan ke dalam JIT, jika tidak, sulit bagi kami untuk bekerjasama dalam penyelidikan ini. Saat ini kami hanya menjadi partisan,” kata Kepala Kepolisian Malaysia Khalid Abu Bakar, Rabu (19/11), kepada New Straits Times.

Satu-satunya informasi yang dirilis JIT dan pemerintah Belanda September lalu menyebutkan bahwa MH17 jatuh oleh “tumbukan benda-benda berkecepatan tinggi”.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL