obama brusselsBrussels, LiputanIslam.com — Presiden Obama mengeluarkan pernyataan yang membingungkan. Menurutnya, invasi Amerika terhadap Irak yang menewaskan ratusan ribu rakyat tak berdosa itu masih lebih baik daripada referendum demokratis dan damai di Krimea.

“Bersama-sama kita mengutukm invasi Rusia atas Ukraina dan menolak legitimasi referendum Krimea,” kata Obama dalam pidatonya di hadapan 2.000 audiens di Palais des Beaux-Arts, Brussels, Rabu (26/3).

“Kami tidak mengklaim atau menganeksasi wilayah Irak. Kami tidak merenggut sumber daya alamnya untuk kepentingan kami. Bahkan, kami mengakhiri perang di Irak dan meninggalkannya untuk rakyat Irak dan negara Irak yang berdaulat,” tambah Obama.

Tidak ayal, pers Rusia pun langsung mengolok-olok pernyataan Obama tersebut.

“Obama mengatakan invasi Irak tidak seburuk (referendum) Krimea. Tunggu dulu … Apa?” demikian judul headline situs berita Russia Today hari ini (27/3).

Menurut Russia Today (RT), pernyataan tersebut merupakan bukti nyata sikap Amerika yang “standar ganda”.

“Kebaikan hanya bagi mereka yang menggunakan bom dan beton di Kiev, dan keburukan bagi penduduk Krimea yang pro-Rusia,” tambah RT.

“Betul, referendum adalah jahat dan bom adalah baik,” sindir RT lagi.

Tentang pernyataan Obama yang mengklaim pemerintah Amerika tidak memiliki hasrat untuk menguasai Ukraina, RT menyindir dengan menyebut para pejabat Amerika telah berbondong-bondong datang ke Ukraina untuk memberikan dukungan kepada para demonstran di Maidan, selama upaya penggulingan Presiden terpilih Ukraina Victor Yanukovych.

“Dan ketika Deputi Menlu Victoria Nuland berdiskusi dengan dubes Amerika di Ukraina Geoffrey Pyatt tentang siapa yang boleh dan tidak boleh menjadi pejabat Ukraina, itu hanya percakapan kosong 2 orang diplomat,” sindir RT lagi.

Tentang invasi Irak yang disebutkan Obama di atas, RT menyebutkan kerusakan yang terjadi di Irak paska invasi Amerika tahun 2003.

RT juga menyinggung pemboman Amerika dan NATO terhadap Serbia tahun 1999 untuk membantu kemerdekaan Kosovo. Pemboman yang menewaskan ratusan warga Serbia itu disebutnya sebagai pelanggaran nyata hukum internasional. Sementara dalam kasus Krimea, tidak ada tembak menembak yang merenggut nyawa seorang pun, kecuali tewasnya 2 orang akibat tembakan sniper provokator dari Ukraina.

“Pengganggu terbesar di dunia berbicara tentang cinta dan damai. Dan drone-drone pembunuh adalah pembawa pesannya. Dan para penjaga penjara rahasia CIA adalah penjaga-penjaganya. Dan NSA memata-matai siapapun yang tidak mendengarkannya,” tulis RT.

“Seperti pepatah kuno Romawi, apa yang boleh bagi Dewa Jupiter tidak boleh bagi kerbau. Ya, tidak ada dewa yang duduk di Washington, dan kebanyakan orang tidak ingin diperlakukan seperti kerbau.”(ca/russia today)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL