penyelam-TNI ALPangkalan Bun, LiputanIslam.com–Mengangkut mayat yang telah terbenam di dasar laut selama berhari-hari, adalah pekerjaan yang sangat berat dan membutuhkan jiwa pengorbanan yang tinggi. Apalagi, ketika air laut keruh dan jarak pandang hanya 0 meter, alias tidak terlihat benda apapun di depan mata. Namun itulah yang dilakukan dengan gagah berani oleh pasukan Satuan Komando Pasukan Katak (Satkopaska) Tentara Nasional Indonesia.

Satkopaska dilibatkan dalam operasi evakuasi jenazah korban pesawat AirAsia QZ8501 di Selat Karimata. Danden IV Satkopaska Kapten Laut (P) Armabar Edy Tirtayasa mengatakan, beberapa kali pihaknya telah mengecek kondisi lautan di Selat Karimata. Hasilnya, dari permukaan tampak biru gelap dan dapat diprediksi jika kondisi di dasar bisa menyelam tanpa melihat alias jarak pandang 0 meter. “Ini merupakan pengaruh cuaca sekaligus kondisi sekitar. Banyak sungai biasanya lumpurnya banyak dan menghalangi pandangan,” paparnya.

Dengan jarak pandang tersebut, yang bisa dilakukan anggota Satkopaska hanya bisa menyelam dengan feeling. Artinya, penyelam hanya bisa menebak-nebak di mana ada serpihan atau jenazah. ‎”Tapi, ini hal yang biasa untuk Kopaska,” ujarnya.

Untuk mengetahui benda yang ada didasar lautan dengan tanpa pandangan‎, maka Tim harus meraba-raba dasar lautan secara manual dengan tangan. Saat disentuh, tentu Tim mengetahui apakah itu logam, jenazah, atau hanya karang. “Kalau dirasa merupakan bagian pesawat atau jenazah, tentu kami ambil dan masukkan ke keranjang evakuasi,” paparnya.

Evakuasi jenazah memerlukan teknik khusus. Sebab, jenazah di laut yang membengkak mudah rusak. Hanya ada dua cara untuk mengevakuasinya. Pertama, memeluk dan memegang pinggang atau ikat pinggang. Cara kedua, dengan memegang tengkuk jenazah. “Kedua cara ini yang membuat bisa utuh. Kalau ditarik tangan jenazahnya bisa putus,” ujarnya.

Penyelaman dasar laut tidak hanya butuh fisik yang kuat. Namun, juga butuh mental baja, sebab biasanya jenazah yang tewas tenggelam itu ‎wajahnya berbeda dengan jenazah akibat sebab lain. Namun, Kopaska siap untuk melakukan evakuasi kapan pun dan di mana pun. Hanya, yang paling utama adalah lokasi pencarian yang sudah pasti. “Kalau menyelam tanpa lokasi fix, kami juga membahayakan diri sendiri,” paparnya, seperti dikutip Jawa Pos (2/1/2015).

Pujian dari Tentara AS untuk Penyelam TNI

Lieutenant Commander US Navy, Greg Adams, menganggap pasukan penyelam elit TNI Angkatan Laut telah melakukan hal yang ‘gila’. Kegilaan yang dia maksud karena dalam cuaca buruk dan ombak yang besar, mereka tetap diminta untuk turun ke bawah laut.

“Tadi saya sempat ngobrol sama Adam, katanya penyelam kamu gila disuruh menyelam dengan kondisi seperti itu (buruk),” kata Danlanal Banjarmasin Kolonel (P) Haris Bima, seperti dikutip merdeka.com di Pangkalanbun (5/1/2015).

Bima mengatakan, pasukan elit TNI AL sudah terlatih dalam menyelam di bawah laut. Apalagi, Kopaska, Denjaka, Taifibi sudah dikenal oleh TNI AL di semua negara.

“Saya bilang ke Adam, tidak apa-apa mereka terlatih,” kata Bima.

Tim penyelam dari TNI AL, yang terdiri dari Detasemen Jala Mangkara (Denjaka), Komando Pasukan Katak (Kopaska), dan Pengintai Amfibi (Taifib) sebanyak 66 orang bergabung dalam Tim SAR Gabungan. Mereka harus berjibaku mengevakuasi jenazah korban serta mencari kotak hitam (black box) pesawat yang hilang pada Minggu 28 Desember 2014 lalu. (fa)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*