Ir. Nur Ikhwan (relawan MER-C)

Ir. Nur Ikhwan (relawan MER-C)

Jakarta, LiputanIslam.com–Lembaga kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) sejak tahun 2009 memulai pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza. Akhirnya, pada tahun 2015, RSI telah siap dioperasionalkan dan menunggu peresmian oleh pejabat Indonesia untuk diserahkan resmi kepada pemerintah Gaza. Berikut ini kisah suka-duka ‘jihad profesional’ para relawan MER-C dalam membangun RSI.

Ir. Nur Ikhwan Abadi, Site Manager pembangunan tahap 1 RSI dalam  sambutannya mewakili para relawan pada acara penyambutan relawan RS Indonesia yang digelar di kantor MER-C Pusat Jakarta, Kamis (25/6), menyatakan bahwa para relawan melalui dua peperangan besar di Jalur Gaza. Namun, namun mereka tetap memilih untuk bertahan di RSI untuk menjaga dan menunaikan amanah dari rakyat Indonesia.

“Alhamdulillah kita sudah sampai kembali (di tanah air) setelah menunaikan sebuah amanah yang menurut kami yang berada di lapangan juga merupakan sebuah mimpi, seperti mengkhayal di siang bolong. Tak terpikirkan bagaimana merealisasikan sebuah bangunan di tempat konflik seperti Gaza dan apabila melihat video (proses pembangunan RS Indonesia) tadi terasa sekali bagaimana perjuangan teman-teman khususnya teman-teman relawan yang siang dan malam bekerja tanpa kenal lelah, tanpa kenal mengantuk, bahkan di saat perang pun mereka tetap bekerja,” tutur Nur Ikhwan seperti diberitakan fanpage RSIndonesia.

Nur menjelaskan, pada tahun 2012 terjadi perang besar selama 8 hari dan para relawan baru saja tiba kurang lebih 1 minggu di RSI. Nur pun menawarkan kepada para relawan, “Kita tetap di Rumah Sakit ini atau kita evakuasi keluar dari tempat ini?”

Ternyata, para relawan saat itu menyampaikan satu kata, satu suara bahwa, “Kita akan tetap berada di Rumah Sakit ini karena ini adalah amanah dari rakyat Indonesia.”

“Hingga nyawa kita sekalipun melayang, kita harus tetap berada di Rumah Sakit ini!”

RS Indonesia 1.2Di tahun 2014 terjadi hal serupa. Baru 1 minggu relawan tiba di Rumah Sakit Indonesia (RSI), terjadi lagi peperangan, peperangan terbesar dalam sejarah Palestina semenjak dikuasai oleh Israel.

“Perang selama 51 hari yang tidak terbayang oleh kami bahwa kami masih hidup dan bisa kembali ke tempat ini (ke tanah air). Kalau kami gambarkan bagaimana proses terjadinya peperangan. Jarak Rumah Sakit Indonesia dari perbatasan Israel hanya sekitar 2,5 km. Saat itu Israel mulai menggempur Gaza. Di minggu pertama memasuki minggu ke-2 Israel melakukan serangan darat. Serangan darat itu, apabila kita berdiri di atas bangunan RSI, tank-tank Israel itu kelihatan di dekat perbatasan, mulai masuk ke Jalur Gaza. Dan semua warga yang berada di sekitar RSI mulai Bayt Hanoun, Bayt Lahiya, semuanya sudah mengungsi. Ada yang ke Gaza, ada yang ke Jabaliya untuk menghindari serangan-serangan dari Israel,” ungkap Nur Ikhwan.

Namun lagi-lagi, para relawan tidak mau dievakuasi dan tetap melanjutkan pembangunan RSI di tengah perang. Biaya pembangunan rumah sakit tersebut menghabiskan dana sebesar Rp120 miliar yang berasal dari sumbangan-sumbangan swadaya masyarakat, tanpa ada kontribusi dari instansi pemerintah. (dw)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL