puspiptek serpong

puspiptek serpong

Serpong, LiputanIslam.com–Pernah melihat film-film sci-fi, di mana si aktor dipindai matanya saat masuk ke sebuah ruangan? Jika kita berkunjung ke Reaktor Nuklir Indonesia di Serpong, pemindaian retina mata dan sidik jari pun akan kita alami. Indonesia sudah mempunyai reaktor nuklir yang berada di Pusat Penelitian Teknologi (Puspiptek) Serpong, Tangerang. Reaktor itu difungsikan sebagai pusat riset nuklir (Baca: Indonesia Raih Penghargaan Nuklir dari IAEA).

Reaktor nuklir tersebut berada di gedung G.A Siwabessy. Nama Siwabessy sendiri merupakan menteri kesehatan di era Presiden Soekarno. Penyematan nama tersebut sebagai tanda jasa untuk beliau. Berikut pengalaman wartawan vivanews saat berkunjung ke sana.

Tidak mudah memasuki area reaktor nuklir tersebut. Pasalnya, keamanannya cukup ketat. Tak sembarang orang bisa menyelinap ke tempat itu. Saat melangkah memasuki gedung, belum ada pengecekan, namun ketika akan berjalan menuju ke reaktor itu. Semua perangkat benda-benda yang dikhawatirkan jatuh, harus disimpan di lobi.

Begitu juga, para awak media, tak bisa membekali diri dengan senjata andalannya, yakni ponsel. Perangkat apapun, yang diandalkan untuk mencatat dan merekam berita, ikut pula ‘disita’ pula oleh divisi keamanan gedung. Hal itu merupakan tindak pencegahan agar terhindar dari kontaminasi radioaktif pada barang. Jika terlanjur menempel, disinyalir akan susah dihilangkan unsur radioaktifnya.

Setelah itu, wartawan diajak ke lantai tiga tempat reaktor nuklir itu berada. Namun sebelum itu, para wartawan, tak terkecuali pegawai di sana, diharuskan memakai jubah besar dan pelindung kaki berbentuk sepatu. Ini merupakan standar keamanan mencegah radioaktif menempel di tubuh manusia.

Untuk ke lantai tiga, akses masuk pegawai menggunakan teknologi identifikasi retina mata dan fingerprint (sidik jari).

Berada di lantai tiga, ada pintu berukuran empat meter dengan bahan dasar baja berfungsi menghalangi keluarnya zat radioaktif. Ada dua pintu sebelum melenggang masuk. Namun, sebelum itu pegawai terlebih dahulu menekan tombol, agar operator membukakan pintu dan mengizinkan masuk.

Reaktor nuklir ternyata diletakkan di dalam air murni dengan kedalaman sekitar 10 meter.

“Air murni ini sebagai pendingin reaktor. Untuk penggantiannya sekitar satu tahun sekali,” kata Edison Sihombing, Pranata Utama Puspiptek.

Edison menambahkan reaktor ini diawasi oleh operator yang berada di lantai lima. Untuk mengawasinya ada beberapa CCTV yang aktif selama 24 jam di dalam ruangan itu.

“Dari 1 Januari hingga 31 Desember, ruang operator ini nggak pernah kosong. Ada tiga shift, yang mengawasi reaktor selama 24 jam,” ungkapnya.

Soal polusi yang dikeluarkan nuklir, Edison mengatakan hal itu sudah diminimalisir. Kata dia, udara luar bebas masuk ke dalam ruangan, namun untuk udara yang keluar akan disaring melalui beberapa kali proses filterisasi.

Sebelum meninggalkan ruangan, terlebih dahulu dilakukan pemindaian tubuh untuk mendeteksi kemungkinan terkontaminasi nuklir atau tidak. Saat melewati kotak setinggi dua meter ini, kedua tangan setiap orang harus menyentuh tombol untuk menghilangkan radioaktif.

“Benda ini namanya Total Body Monitor,” jelas Edison sambil memantau orang-orang yang bersih dari radioaktif melalui layar.

Saat ini Indonesia belum mempunyai Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) untuk dimanfaatkan sebagai potensi energi di masa depan. Reaktor nuklir yang ada di gedung Siwabessy ini diperuntukkan sebagai riset untuk memenuhi kebutuhan energi masa depan Indonesia.  Indonesia sedang menuju ke arah pembangunan PLTN dengan memasukan program tersebut ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2014-2019. (dw/vivanews)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL