foto: cnnindonesia.com

foto: cnnindonesia.com

Jakarta, LiputanIslam.com — Ketika kenaikan harga BBM diprotes oleh sebagian rakyat Indonesia, Bank Dunia justru mengapresiasi keputusan pemerintahan Joko Widodo tersebut. Kebijakan itu diyakini semakin meningkatkan ruang fiskal Indonesia dalam memaksimalkan belanja pembangunan.

Ndiame Diop, Kepala Ekonom Bank Dunia untuk Indonesia, mengatakan setelah dilantik Jokowi dan kabinetnya menetapkan serangkaian sasaran pembangunan yang ambisius, antara lain peningkatan infrastruktur, pembenahan sektor energi, dan pelaksanaan program sosial. Langkah lain yang dinilai positif adalah fokus implementasi program dan pendekatan perumusan kebijakan yang lebih terpusat.

“Langkah-langkah yang bertujuan untuk meningkatkan tata kelola di sektor-sektor utama juga telah dilakukan, misalnya pada industri minyak dan gas bumi,” ujarnya, seperti dilansir cnnindonesia.com, 8 Desember 2014.

“Kebijakan tersebut mendukung posisi fiskal Indonesia dan memperluas ruang fiskal bagi peningkatan belanja pembangunan yang sangat diperlukan,” tambah dia.

Bank Dunia Menekan Indonesia?

Dari laporan detik.com, Bank Dunia sejak bulan Maret 2014 telah menekan pemerintah Indonesia agar bisa mengurangi subsidi energi, khususnya subsidi BBM. Saat itu, Bank Dunia meminta presiden baru agar menaikkan harga BBM subsidi menjadi Rp 8.500/liter.

Ekonom Utama Perwakilan Bank Dunia di Jakarta yaitu Jim Brumby mengatakan, presiden baru Indonesia nanti akan menghadapi masalah tingginya subsidi BBM dan listrik, yang menekan keuangan negara.

“Menaikkan ada dua, bisa Rp 8.500 per liter, atau menaikkan harga sebesar 50%,” katanya di Hotel Intercontinental, Midplaza, Jakarta, Selasa, 18 Maret 2014.

Kepala Ekonom Bank Danamon Anton Gunawan menambahkan, akan terjadi penguatan rupiah sepanjang tahun. “Kami perkirakan hingga akhir tahun rupiah berada di angka Rp 11.060 per dolar. Namun siapapun presidennya nanti, akan menghadapi persoalan besarnya subsidi BBM, suka tidak suka tiap tahun akan dipusingkan sama BBM. Presiden yang baru harus mempunyai program berpindah dari BBM ke gas, dan mungkin harus menaikkan harga BBM subsidi,” tutupnya.

Faktanya: Rupiah Terpuruk

Di penghujung tahun, rupiah terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan menyentuh level Rp12.300 per USD. Dari laporan Bloomberg Dollar Index, Senin, 8 Desember 2014, rupiah pada perdagangan non-delivery forward (NDF) melemah 59,8 poin atau 0,49 persen ke 12.358 per USD. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL