jacob zumaJohannesburg, LiputanIslam.com — Presiden Afrika Selatan (Afsel) Jacob Zuma menyatakan tekadnya untuk menghentikan aksi-aksi kekerasan terhadap warga pendatang asing. Namun ia dikecam karena dianggap bertindak terlalu lambat, meski ia telah membatalkan kunjungannya ke Indonesia demi mengatasi kerusuhan itu.

Hal itu dikatakan Zuma saat mengunjungi kamp pengungsi korban kerusuhan di kota Durban, Sabtu (18/4).

Setidaknya 6 orang tewas dalam aksi-aksi kekerasan yang terjadi di Durban, sementara aksi-aksi kekerasan menyebar ke wilayah-wilayah lain.

Dengan angka pangangguran yang mencapai 24%, warga asli Afsel menuding para pendatang dari negara-negara Afrika dan Asia telah menyerobot lapangan kerja mereka. Hal ini memicu terjadinya aksi kekerasan anti pendatang asing yang telah berlangsung selama beberapa minggu terakhir.

“Aksi-aksi serangan ini menghancurkan segala yang kita percayai di negeri ini. Mayoritas rakyat Afsel mencintai perdamaian dan hubungan baik dengan saudara-saudara mereka di benua ini,” kata Zuma dalam pernyataannya di hadapan pengungsi, kemarin.

“Kita pasti akan menghentikan kerusuhan ini,” tambahnya.

Ia juga menyinggung tentang para pendatang yang telah ataupun hendak pulang ke negaranya akibat aksi kekerasan ini: “Mereka yang ingin pulang ke negaranya, jika keadaan telah pulih kembali, silakan datang kembali (ke Afsel).”

Zuma menyebutkan bahwa para perusuh hanyalah kelompok kecil di antara rakyat Afsel. Namun sebagian pengungsi mengeluhkan tindakan pemerintah yang terlalu lambat. Ribuan pengungsi harus meninggalkan tempat tinggalnya dan negara-negara tetangga seperti Zimbabwe, Malawi dan Mozambique telah mengumumkan rencana untuk mengevakuasi warganya yang berada di Afsel.

Pada hari Sabtu Presiden Zimbabwe Robert Mugabe, selaku Ketua Masyarakat Pembangunan Afrika Selatan serta Uni Afrika, mengatakan: “Saya ingin mengekspresikan rasa terkejut dan muak atas insiden-insiden yang terjadi di Durban.”

Aksi-aksi kekerasan masih berlangsung Jumat malam dan Sabtu dinihari ketika beberapa kelompok orang menyerang toko-toko di beberapa area di sekitar Johannesburg. Polisi menembakkan peluru karet untuk membubarkan penjarah di Alexandra, kota satelit Johannesburg, dan menangkap 30 orang perusuh.

Raja Zulu Goodwill Zwelithini dianggap sebagai pemicu aksi kerusuhan dengan komentarnya yang menginginkan warga pendatang untuk pergi. Namun ia membantah tuduhan itu, mengklaim pernyataannya telah ‘dipelintir’ media massa.

Data resmi pemerintah Afsel menyebutkan terdapat sekitar 2 juta warga pendatang di negara itu, atau sekitar 4% dari total populasi Afrika Selatan. Namun beberapa angka tidak resmi menyebutkan jumlahnya mencapai 5 juta orang. Demikian sebagaimana dilaporkan BBC News.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL