batagordlmWellington, LiputanIslam.com — Festival kuliner Indonesia di Wellington, Selandia Baru, hari ini berlangsung meriah. Ada hidangan batagor, empek-empek, gudeg dan ketoprak. Tak ketinggalan, jamu kunyit asam, mie bakso, nasi kuning, rendang dan sate padang habis terjual.

Selain tarian, produk kerajinan, juga ditampilkan “kerajinan miniatur makanan, angkringan dan jajanan pasar” karya Lucia Tantri Ariadi.

“Festival makanan ini menjadi ajang promosi Indonesia guna mendekatkan dengan masyarakat Selandia Baru,” ujar Dubes RI Jose Tavares, saat membuka acara festival di Johnsonville seperti disampaikan dalam rilis pers KBRI Wellington, Sabtu (3/5).

Masyarakat Indonesia tumpah ruah menghadiri festival makanan yang berlangsung dari pukul 11.00 hingga pukul 14.00 waktu setempat. Dalam sekejap, kurang dari 2 jam makanan nyaris habis. Harga-harga relatif murah dan beragam mulai dari 3 -10 dolar Selandia Baru per porsi untuk makanan langka tersebut di negeri Kiwi ini.

Bahkan batagor ludes terjual 200 porsi dengan harga per porsi 7 dolar Selandia Baru. Artinya penjual mendapatkan paling sedikit 1.400 dolar Selandia Baru (Rp 14 juta) hanya dari jualan batagor.

“Iya, lumayan bisa dapat 1.400,” tutur ibu Tina yang juga ahli pembuat “iga penyet” kepada PLE Priatna, WNI di Wellington yang turut memborong makanan.

“Selain promosi dan obat kangen, makanan Indonesia bisa menjadi bisnis yang menjanjikan di Selandia Baru,” imbuhnya.

Di perantauan, ternyata banyak WNI memiliki keahlian memasak, dari sekadar hobi hingga profesi. Bakso yang dibandrol 5 dolar per porsi, jamu kunyit asam 2,5 dolar per botol 100cc hingga ketoprak yang dipatok 8 dolar per porsi, sate padang 5 dolar, nasi padang 10 dolar, dan empek-empek 6 dolar. Harga murah, rasa pun tak kalah nikmat.

Namun seorang WNI mengeluhkan kurangnya promosi acara ini. “Kegiatan promosi makanan perlu digalakkan dan lebih sering dilakukan di banyak tempat, sehingga yang datang tidak hanya masyarakat Indonesia, tapi harusnya “warga bule” Selandia Baru bisa lebih banyak,” cetus seorang ibu dengan agak kesal karena kurangnya promosi acara oleh Kamasi sebagai penyelenggara.(ca/detiknews)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL