RATU INGGRISBridgetown, LiputanIslam.com — Barbados, sebuah negara pulau di Laut Karibia, tengah merencanakan untuk mengganti Ratu Elizabeth II sebagai kepala negara tersebut dengan seorang presiden. Hal ini sekaligus mengakhiri 400 tahun status wilayah kolonial Inggris menjadi republik.

Seperti dilansir Press TV, Selasa (24/3), dalam pertemuan partai penguasa Democratic Labor Party (DLP) hari Minggu (22/3), Perdana Menteri Freundel Jerome Stuart secara resmi mengumumkan rencana mengubah negara tersebut menjadi republik pada akhir November 2016, tepat pada tulang tahun kemerdekaan negara itu.

Sementara itu George Pilgrim, Sekjen DLP mengatakan, bahwa parlemen akan memutuskan untuk mengganti kepala negara Barbados, yaitu Ratu Elizabeth II, dalam waktu tidak lama lagi.

“Ini akan menggerakkan negara ini dengan langkah besar ke depan dalam proses kenegaraan,” kata Pilgrim.

Sejarahwan Barbados, Trevor Marshall, menyambut langkah tersebut dengan menyebut bahwa selama ini status dominion, atau setengah jajahah Inggris, tidak banyak memberikan keuntungan.

Untuk mengubah konstitusi, minimal 2/3 anggota parlemen harus menyetujuinya.

Secara umum terdapat perbedaan pandangan antara generasi tua dengan generasi muda terkait dengan status Barbados, dimana generasi tua menganggap ratu Inggris sebagai simbol stabilitas, sedangkan kaum muda menganggapnya sebagai ‘anachronisme’.

Barbados menjadi wilayah koloni Inggris sejak tahun 1605 sebelum merdeka pada tahun 1966. Namun konstitusi negara itu masih menganut sistem monarki konstitusi dengan raja Inggris sebagai kepala negara.

Saat ini penduduk Barbados diperkirakan mencapai 300.000 orang.(CA)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*