duke-hospitalWashington, LiputanIslam.com — Bakteria super yang dikenal dengan nama CRE atau dengan sebutan “bakteri pembawa mimpi buruk”, telah menyebar secara mengkhawatirkan di kawasan selatan Amerika Serikat (AS) dalam beberapa tahun terakhir. Demikian sebuah hasil penelitian terbaru menyebutkan.

Kantor berita BBC News melaporkan, Sabtu (2/7), bahwa para peneliti dari Duke University Medical Center (DUMC) telah menemukan beberapa kasus CRE (carbapenem resistant Enterobacteriaceae) meningkat pesat 5 kali lipat di berbagai rumah sakit di selatan AS antara tahun 2008 hingga 2012.

“Kami berusaha menyampaikan bahaya ini. Ini masalah bagi kita semua di bidang kesehatan,” kata Deverick J. Anderson, ketua tim peneliti DUMC kepada USA Today.

Carbapenem adalah anti-biotik paling kuat yang dikenal di dunia saat ini dan dianggap sebagai “cadangan terakhir” penanganan penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteria. Munculnya bakteri baru yang resistan terhadap antibiotik ini dianggap sebagai ancaman serius bagi dunia pengobatan. Itulah sebabnya CRE disebut juga sebagai “pembawa mimpi buruk”.

CRE adalah satu jenis bakteria yang hidup di dalam usus manusia dan biasanya tidak menimbulkan masalah. Namun ketika bakteria itu keluar dari tubuh, misalnya karena penangangan gawat darurat, bakteria itu berubah sifat menjadi ganas dan menimbulkan penyakit.

Satu dari 25 pasien rawat inap rumah sakit setidaknya terinfeksi bakteri tersebut setiap harinya, demikian keterangan badan pananganan penyakit menular AS, US Centers for Disease Control and Prevention (CDC).

Korban infeksi bakteri CRE biasanya adalah pasien rumah sakit yang lemah, menewaskan hampir separoh dari mereka yang terinfeksi.

Para ahli meyakini munculnya bakteri yang kebal terhadap antibiotik dirangsang oleh penggunaan antibiotik yang di luar kontrol dan berlebihan. Misalnya digunakan untuk penyakit-penyakit yang tidak terlalu serius.

Tahun lalu CDC melaporkan CRE telah merebak dari satu fasilitas medis pada tahun 2001 ke banyak fasilitas medis di 46 negara bagian pada tahun 2013.

“Antibiotik terkuat kami tidak mempan, dan para pasien ditinggalkan dengan infeksi yang tidak bisa ditangani,” kata Direktur CDC Tom Frieden yang pertama kali menyebut CRE sebagai “nightmare bacteria.”

Studi (DUMC) yang dirilis oleh jurnal Infection Control and Hospital Epidemiology, menyebutkan bahwa kasus CRE meningkat 5 kali lipat di antara Duke Infection Control Outreach Network, kelompok 25 rumah sakit umum di Carolina Utara, Carolina Selatan, Virginia, dan Georgia.

Bulan lalu para peneliti untuk pertama kalinya menemukan bakteri CRE di dalam produk makanan. Demikian laporan CDC.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL