china-iran-leadersLiputanIslam.com — Ketika masyarakat dunia menantikan dengan antusias hasil perundingan program nuklir Iran antara Iran dengan negara-negara P5+1 (AS, Rusia, Cina, Inggris, Perancis dan Jerman), beberapa analis politik internasional justru merasa pesimis perundingan itu akan menjadi “happy ending”.

Setidaknya Flynt Leverett dan Hillary Mann Leverett menulis dalam situs Consortium News tanggal 1 November lalu mengenai prospek perundingan program nuklir Iran:

“Di atas itu semua, kami pemismis karena penyelesaian komprehensif masalah itu akan memaksa AS untuk menghentikan tuntutannya terhadap Iran (yang tidak berdasar dan ilegal),” tulis mereka.

Di sisi lain Iran pun tetap berkukuh dengan program nuklirnya dan tidak akan mundur sejengkal pun. Bulan lalu, misalnya, Deputi Menlu Iran Abbas Araqchi mengatakan bahwa “semua program nuklir Iran akan dipertahankan dan tidak ada satu fasilitas pun yang akan ditutup atau ditangguhkan dan tidak ada satu alat pun yang akan dihancurkan.”

Dan seiring dengan itu semua, hubungan Iran dengan beberapa negara penting, khususnya Cina, semakin menguat. Ditempa oleh konstalasi internasional dan dinamika internal, kedua negara telah menjalin hubungan erat di berbagai bidang terutama energi.

Pada tahun 2012 lalu nilai perdagangan kedua negara mencapai angka $50 miliar atau sekitar Rp 600 triliun. Pada tahun 2011 sekitar 10 persen impor minyak Cina berasal dari Iran. Iran membutuhkan Cina sebagai pasar produk migas andalannya di tengah sanksi-sanksi ekonomi yang diterapkan AS dan sekutu-sekutunya. Sementara Cina membutuhkan migas Iran untuk menjamin pertumbuhan ekonominya yang tinggi.

Di sisi lain, Cina berperan cukup besar dalam pembangunan infrastruktur, pengembangan energi nuklir  dan persenjataan Iran. Diketahui selama Perang Iran-Irak tahun 1980-1988, Cina telah menyuplai senjata untuk Iran melalui Korea Utara. Pada tahun 1986, selama periode perang dengan Irak tersebut, Iran mendapatkan senjata rudal-rudal anti-kapal dari Cina yang menjadi ancaman bagi kapal-kapal negara-negara musuh Iran di Teluk Parsi dan mengubah secara signifikan keseimbangan militer di kawasan.

Di dunia politik internasional, Cina dan Iran telah menunjukkan kedekatannya. Cina secara prinsip menentang sanksi terhadap Iran terkait program nuklir Iran. Cina juga berulangkali memveto resolusi DK PBB yang mengancam kebijakan strategis Iran di kawasan selama konflik di Suriah.

Bila ditilik jauh ke belakang, Cina dan Iran juga memiliki kesamaan sebagai pewaris kebudayaan besar di dunia yang sedikit banyak mempengaruhi cara pandang pemimpin kedua negara untuk saling menaruh hormat. Namun, faktor terpenting dari alasan keduanya untuk saling mengikatkan diri adalah faktor geo-politis. Kedua negara yang lahir dari revolusi perjuangan pembebasan dari kekuatan asing, kini justru menghadapi ancaman dominasi asing, dalam hal ini AS dan sekutu-sekutu baratnya.

Terutama sejak pemerintahan Presiden George W Bush Jr tahun 2000, AS secara agresif menerapkan kebijakan “neo conservative” yang tujuan utamanya menjadikan AS sebagai “negara polisi dunia” demi menjamin eksistensi AS sebagai kekuatan utama politik dan ekonomi dunia. Dengan kebijakan ini, AS berusaha menghancurkan negara-negara di dunia yang dianggap menjadi pesaingnya dan tidak mau tunduk kepada keinginan-keinginannya.

Baik Cina maupun Iran, yang lahir dari semangat anti dominasi asing, secara otomatis harus berhadapan dengan semangat ekspansionisme AS. Maka, dalam situasi seperti ini tidak bisa disalahkan jika kedua negara berusaha memperkuat hubungan untuk bersama-sama menghadapi musuh yang sama. Seperti kata-kata bijak Cina kuno: tujuan yang sama memecah belah, musuh yang sama menyatukan.

Dalam semangat anti dominasi AS itulah, Cina dan Iran menggabungkan diri dalam kaukasus kerjasama ekonomi-politik-dan militer yang dipelopori oleh Rusia, Shanghai Cooperation Organization (SCO).

Pada bulan Mei lalu, dalam acara Conference on Interaction and Confidence Building Measures in Asia (CICA) yang digelar di Shanghai, Presiden Cina menyerukan dibentuknya organisasi kerjasama Asia yang melibatkan Iran dan Rusia dengan mengabaikan AS.

“Kita perlu melakukan inovasi atas kerjasama keamanan dengan membentuk organisasi kerjasama keamanana regional baru,” kata Presiden Xi Jinping dalam konperensi yang dihadiri Presiden Rusia dan para pemimpin negara-negara Asia Tengah termasuk Iran itu.

Selama bertahun-tahun Cina, di samping mempererat hubungan dengan Iran, juga berusaha tetap menjaga hubungan baik dengan AS, minimal menghindari konfrontasi. Namun Cina juga tahu, cepat atau lambat semangat ekspansionisme AS pada akhirnya akan memangsa Cina juga. Sementara migas Iran justru semakin vital bagi pertumbuhan ekonomi Cina. Maka hampir bisa dipastikan hubungan Cina dengan Iran akan semakin menguat dengan mengorbankan hubungan dengan AS.

Kecuali AS mengubah kebijakan luar negerinya, dan lebih fundamental lagi, cara pandangnya terhadap konstalasi politik global, hubungan Iran dengan Cina akan semakin menguat.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL