model mongolia2Melbourne, LiputanIslam.com — Australia menolak permintaan ekstradisi terhadap terpidana pembunuh model asal Mongolia Altantuya Shaariibuu, yang telah divonis mati oleh Mahkamah Agung Malaysia tanggal 13 Januari lalu.

Mengutip keterangan pejabat Kejaksaan Agung Australia akhir pekan lalu, media Australia Sydney Morning Herald menyebutkan bahwa undang-undang Australia menolak mengekstradisi seseorang yang menghadapi ancaman hukuman mati, kecuali negara tersebut memberi jaminan tidak akan menghukum mati.

Pada tahun 2013 Sirul Azhar dan Azilah Hadri dibebaskan dari tuduhan pembunuhan atas Altantuya Shaariibuu yang ditemukan tewas dalam kondisi hancur berkeping-keping oleh ledakan bahan peledak C4 pada tahun 2006. Namun Mahkamah Agung Malaysia mengukuhkan kembali hukuman mati yang telah dijatuhkan pengadilan yang lebih rendah pada tahun 2009.

Dalam persidangan hari Selasa (13/1) lalu Sirul Azhar tidak hadir dan diduga kuat telah berada di Australia sejak dibebaskan tahun 2013.

Kasus ini menjadi perhatian besar publik Malaysia karena menyangkut nama Wakil Perdana Menteri waktu itu yang kini telah menjadi perdana menteri, Najib Razak. Setidaknya 2 orang telah membuat kesaksian terbuka bahwa Najib Razak adalah otak pembunuhan itu. Seorang di antaranya kemudian melarikan diri ke Inggris, sedang seorang lainnya tewas karena “serangan jantung”.

Najib Razak diduga memiliki hubungan khusus dengan Shaariibuu dan mereka diketahui pernah mengadakan perjalanan ke Eropa dalam sebuah negosiasi rahasia pembelian persenjataan. Namun Najib membantah kabar tersebut.

Sirul Azhar dan Azilah Hadri, keduanya anggota kepolisian yang menjadi pengawal pribadi Najib Razak saat peristiwa itu terjadi, membantah sebagai pelaku pembunuhan dan menyatakan mereka hanya sebagai “kambing hitam”, namun menolak menyebutkan siapa otak pembunuhan itu.

Para pengamat inteligen juga meragukan Sirul dan Azilah sebagai pelaku pembunuhan. Selain tidak adanya motif, sebagaimana disebutkan oleh Pengadilan Tinggi yang membebaskan keduanya tahun 2013, keduanya juga dianggap tidak mengetahui apa-apa tentang bahan peledak C4 yang hanya dimiliki secara terbatas oleh militer negara-negara sekutu AS, negara pembuat C4.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*