MASJIDRembang, LiputanIslam.com — Lembaga Takmir Masjid Nahdlatul Ulama (LTM-NU) Cabang Rembang, menduga ada sebagian masjid di Kabupaten Rembang, yang menjadi tempat pengembangan Islam garis keras. Oleh karena itu mereka  menghimbau para ulama dan tokoh agama untuk lebih mendekatkan diri kepada umat.

Menurut keterangan Ketua LTM-NU Cabang Rembang Atho’illah Muslim kepada media, minggu ini, dalam segi jumlah masjid yang “terkontaminasi” Islam garis keras, tidak terlalu banyak, tetapi ia berharap para ustadz dan para tokoh agama setempat mulai memperhatikan masyarakat. Jika kondisi masyarakat, dibiarkan terlalu lama, bukan tidak mungkin mereka akan mengubah pola fikir masyarakat untuk bertindak radikal, sebagaimana yang terjadi di kota-kota lain.

Mengenai penyebab ketertarikan masyarakat untuk mengikuti aliran seperti itu, menurut Atho’ disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya, kurangnya perhatian dari kalangan tokoh agama setempat sehingga wilayah itu menjadi lahan dakwah kelompok radikal, serta pondasi agama yang kurang dan membuat pengetahuan masyarakat kurang dalam memahami agama, dan lemahnya kalangan ekonomi masyarakat yang membuat mereka ikut-ikutan karena mendapatkan sesuatu (materi).

Kondisi seperti itu, seharusnya bisa diminimalisir oleh para tokoh agama setempat, dengan rutin mengadakan pengajian, sebagai pondasi dan pembekalan masyarakat yang minim pengetahuan keagamaan.

Atho’ juga menyebut, kebanyakan kalangan mahasiswa yang studi di luar kota, yang paling rentan tercemar pola fikirnya. Pasalnya menurut dia, pendidikan agama sekolah formal, dinilai belum mampu memberikan pembekalan sebagai pondasi untuk membentengi mereka. Jika tidak ditambah dengan sekolah non formal seperti madrasah diniyah dan pesantren.

Aswaja NU Center Perkarakan Radio Wahabi
Sementara itu Aswaja NU Center Malang dilaporkan tengah memperkarakan beberapa “radio wahabi” yang bersiaran di kota Malang kepada Kementerian dalam Negeri dan Kementrian Komunikasi dan Informatika. Alasan pelaporan tersebut karena radio-radio tersebut dianggap telah terang-terangan menyiarkan dan mencela amaliah atau tradisi keagamaan warga Nahdlatul Ulama. Dua diantaranya adalah Radio Dakwah Islam (RDI).

Menurut keterangan Yuanda Kusuma, salah seorang pengurus NU Kota Malang yang juga menjadi salah satu Pengurus Aswaja Center NU Malang, pihaknya telah merapatkan tentang langkah-langkah apa yang harus diambil dalam menyikapi ketiga radio yang disinyalir dikelola oleh kelompok Wahabi itu.

“Kami sudah mendapatkan data-datanya. Kami sudah mengetahui tentang pasal-pasal apa saja yang mereka langgar. Termasuk bukti-bukti bahwa mereka telah melanggar hukum.” Kata Yuanda Kusuma pada media NU beberapa waktu lalu.

Menurut keterangannya, berkas-berkas yang telah dipersiapkan meliputi data-data dan bukti-bukti tersebut sedianya akan diajukan kepada Kementerian Dalam Negeri dan Kementrian Komunikasi dan Informatika. Pihaknya sudah membicarakan rencana itu dalam forum rapat.

Sedangkan ditanya mengenai apakah yang akan dilakukan NU jika laporan tersebut tidak mendapatkan tanggapan serius, ia menjawab tetap sebisa mungkin akan menggunakan jalur hukum. Setidaknya akan diusahakan supaya masalah ini ditangani satpol PP. Ia menekankan bahwa NU akan sebisa mungkin mengikuti hukum yang berlaku di negara Indonesia.

“Kami sebisa mungkin akan melalui jalur hukum. Kami ingin menunjukkan bahwa warga NU taat hukum. Supaya ada bedanya antara organisasi NU dan yang bukan NU. Setidaknya, jika laporan kami tidak mendapatkan tanggapan serius, jalan terakhirnya adalah satpol PP,” kata alumni Al-Azhar tersebut.

Ia juga menjelaskan bahwa NU tidak akan melalui cara-cara kekerasan, karena cara kekerasan itu bukan gaya yang dianjurkan oleh para wali.

“Bagaimanapun mereka dan kelompoknya punya keluarga, anak dan istri. Demikian pula di pihak kita. Sehingga memperbenturkan massa kita dengan mereka hanya akan membawa akibat yang lebih buruk. Kami tidak akan melakukan itu,” kata Yuanda.(ca/nu.or.id)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*