ashraf ghani sumpahKabul, LiputanIslam.com — Ashraf Ghani dilantik sebagai presiden baru Afghanistan di Kabul, Senin (29/9). Pelantikan ini mengakhiri kebuntuan politik yang terjadi setelah pilpres 6 bulan yang lalu.

Di bawah perantaraan Menlu AS John Kerry, akhirnya kedua kandidat yang saling mengklaim sebagai pemenang, Ashraf Ghani dan Abdullah Abdullah, setuju untuk berbagai kekuasaan dimana Ghani menjadi presiden dan Abdullah menjadi menteri utama setingkat perdana menteri.

Taliban menuduh kesepakatan itu sebagai “skandal memalukan”, namun Ghani menyebutnya sebagai “kemenangan besar”.

Sebagaimana dilaporkan BBC News, Ghani diambil sumpah di Istana Kepresidenan di hadapan sekitar 100 tamu undangan. Dalam sambutannya setelah dilantik, Ghani berjanji akan menjalankan reformasi, pembangunan, penghapusan kemiskinan, penindakan korupsi dan pembersihan sitem hukum di Afghanistan. Namun ia mengakui, semuanya itu tidak akan terwujud tanpa adanya keamanan.

Ia menyebut rakyat Afghanistan telah lelah dengan konflik bersenjata dan menginginkan perdamaian.

Ghani juga berbicara tentang konflik di Suriah dan Irak dan menyebut bahwa bangsa Afghanistan telah berpengalaman berjihad saat mengalahkan pasukan Uni Sovyet tahun 1980-an. Ia menyebut, negaranya tidak membutuhkan pelajaran tentang jihad dari negara-negara lain.

Memuji keberhasilan “perpindahan kekuasaan secara demokratis yang pertama kalinya di Afghanistan”, mantan ekonom Bank Dunia ini juga memuji rivalnya dalam pilpres yang kini menjadi mitranya, Abdullah Abdullah.

Ia berjanji akan bekerjasama dengan Abdullah “untuk masa depan yang lebih baik bagi Afghanistan, berdasarkan kepercayaan dan kejujuran”.

Sebelumnya, Presiden Hamid Karzai, yang menjadi presiden sejak invasi AS di Afghanistan tahun 2001, menyerukan rakyat Afghanistan untuk mendukung pemerintahan baru pimpinan Ghani.

Sementara itu BBC melaporkan situasi keamanan Kabul pada hari pelantikan presiden baru tersebut sebagai “ketat”. Toko-toko ditutup dan jalan-jalan dipenuhi aparat keamanan. Demikian laporan BBC.

Diperkirakan, salah satu isu politik pertama yang harus diselesaikan Ghani adalah penandatanganan perjanjian keamanan dengan AS untuk mengijinkan sebagian pasukan AS tetap berada di Afghanistan setelah berakhirnya masa tugas mereka tahun ini. Isu inilah yang selama ini menghalangi hubungan AS dengan Afghanistan setelah Hamid Kharzai menolak perjanjian tersebut.

Sementara itu kelompok Taliban terus melakukan aksinya. Pada hari pelantikan Ghani, kelompok ini menyerang kompleks pemerintahan di Provinsi Paktia. Sementara sebuah bom pinggir jalan meledak di jalan raya menuju bandara Kabul. Namun tidak ada laporan warga yang terluka dalam serangan ini.

Pada hari Jumat (26/9) Taliban menduduki sebuah distrik strategis di Provinsi Ghazni.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL