New York, LiputanIslam.com–AS kembali memveto resolusi yang diusulkan oleh Kuwaiti kepada Dewan Keamanan PBB. Resolusi itu menyerukan “perlindungan internasional” kepada warga sipil Palestina pasca genosida yang terjadi di Gaza.

Berpidato di pertemuan dewan, duta AS untuk PBB, Nikki Haley, menyebut resolusi itu hanya “pandangan sepihak yang kasar”.

Untuk membela Israel, Haley menuduh Hamas telah melakukan kekerasan di perbatasan Gaza dan Israel, dan secara sengaja menyusupi “pejuang teroris” mereka di demonstrasi ‘Great March of Return’.

“Kelompok teroris Hamas bertanggungjawab atas kondisi yang buruk di Gaza,” katanya sebelum pengumpulan suara untuk resolusi tersebut.

AS menjadi sat-satunya anggota dewan yang memveto usulan resolusi. Terdapat 10 suara setuju dan 4 abstein (Polandia, Inggris, Belanda, dan Ethiopia). Agar bisa diadopsi, sebuah resolusi harus mendapat 9 suara setuju dan tidak ada veto dari AS, Rusia, Cina, Prancis, dan Inggris.

Menanggapi hal ini, wakil dari Kuwaiti menyebut pembatalan usulan ini merupakan bukti bahwa “kekuatan penjajah menikmati pengecualian [hukum].”

“Mengapa warga Palestina terus menderita? Mengapa komunitas international gagal bertindak? Mengapa Israel mendapat kebebasan hukum? Mengapa semua nyawa ini harus hilang dan darah tertumpah?” tanyanya.

Seminggu sebelum pengumpulan suara DK PBB ini, belasan roket ditembak ke Israel dari Palestina, yang diikuti oleh serangan balasan oleh militer Israel. Sementara itu selama 3 bulan terakhir, tentara Israel membunuh lebih dari 120 warga Palestina dan aksi unjuk rasa Great March of Return. (ra/rt)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*