ashton carterWashington DC, LiputanIslam.com — Kesepakatan ‘kerangka kerja’ bagi perjanjian final tentang program nuklir Iran yang komprehensif dan mengikat telah tercapai dalam perundingan antara Iran dan negara-negara adidaya P5+1 minggu lalu. Namun AS masih tidak membuang kemungkinan untuk melancarkan serangan terhadap Iran, bahkan jika perjanjian final tersebut ditandatangani pertengahan tahun ini seperti dijadwalkan.

Hal itu disampaikan oleh Menhan AS Ashton Carter dalam wawancara dengan program televisi NBC ‘Today‘ minggu lalu, seperti dilansir media Rusia Sputnik, Minggu (5/4).

Menurut Carter AS tetap berhak membom Iran, meski AS dan Iran telah menandatangani perjanjian nuklir.

“Pilihan militer tentu saja masih tetap ada di meja. Salah satu tugas saya adalah memastikan bahwa semua pilihan ada di atas meja,” kata Carter.

Menurut Carter, pilihan militer dibutuhkan jika Iran melanggar perjanjian. Jika Iran diketahui diam-diam menjalankan pengayaan nuklir di atas ketentuan yang tidak memungkinkannya untuk membuat bahan bakar senjata nuklir, maka secara teori serangan militer akan menjadi pilihan, kata Carter.

Ia juga menambahkan bahwa setiap perjanjian tidak bisa berdasarkan pada ‘kepercayaan’ semata, melainkan harus berdasar pula pada verifikasi. Untuk itu AS akan melihat bagaimana perjanjian itu diimplementasikan.

Dalam ‘kerangka kerja’ yang telah disetujui tersebut di atas, Iran diijinkan untuk mengoperasikan satu fasilitas pengayaan uranium di Natanz dengan imbalan seluruh sanksi terhadap Iran terkait dengan program nuklirnya, akan dicabut.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL