jen psakiWashington, LiputanIslam.com — Amerika Serikat kembali menegaskan pihaknya tidak akan mengeluarkan visa bagi utusan Iran untuk PBB, Hamid Aboutelabi.

Juru bicara Departemen Luar Negeri AS Jen Psaki, hari Selasa (15/4), mengatakan, pemberian visa kepada Aboutelabi adalah langkah yang tidak bisa diterima, mengingat krisis penyanderaan tahun 1979 di kedutaan besar AS di Teheran.

“Terkait dengan peranannya dalam peristiwa 1979, yang jelas merupakan masalah yang sangat penting bagi rakyat Amerika, memberikan visa baginya adalah langkah yang tidak bisa diterima,” kata Jen Psaki kepada para wartawan.

Ini adalah pertama kalinya Washington secara terbuka mengaitkan Aboutalebi dalam krisis penyanderaan tersebut. Ketika itu 52 diplomat Amerika dan staff disekap selama 444 hari oleh mahasiswa-mahasiswa Iran.

Penyanderaan yang berlarut-larut itu sangat mengejutkan Amerika Serikat dan mengakibatkan kerusakan dalam semua hubungan diplomatik antara AS dan Iran selama tiga dekade terakhir ini.

Sengketa soal pencalonan Aboutalebi sebagai utusan baru Iran untuk Amerika Serikat mencuat ketika hubungan kedua negara itu mulai mencair. Apalagi pemerintahan baru Teheran berupaya merundingkan sebuah perjanjian nuklir dengan negara-negara kuat dunia.

Pada hari Senin (14/4), Iran mendesak Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki Moon untuk secara langsung menangani masalah tersebut.

Sebagai negara tuan rumah, Amerika Serikat diwajibkan mengeluarkan visa bagi para diplomat yang bertugas di PBB. Apalagi Aboutalebi sebelumnya pernah menghadiri berbagai sidang di markas besar PBB di New York. Namun, ada “pengecualian-pengecualian terbatas”, termasuk apakah AS memiliki kekhawatiran tentang keamanan atau terorisme yang terkait dengan calon bersangkutan.

Psaki mengatakan Washington “tidak akan memberi tahu secara spesifik tentang apa yang kami pikirkan atau tidak kami pikiran bahwa ia terlibat selama krisis penyanderaan”, dengan menambahkan bahwa “ia sendiri (Aboutalebi) telah mengatakan dirinya memang terlibat.”

“Seperti kita ketahui, peristiwa ini merupakan pengalaman mengerikan bagi kelima puluh dua warga Amerika yang mengalami penyanderaan. Dan karena itu, kita tidak bisa memberikan visa,” tambah Psaki.(ca/republika.co.id)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL