pollard-300x225Washington, LiputanIslam.com — Aktivitas spionase Israel yang agresif dan meluas di daratan Amerika Serikat telah memicu kekhawatiran dan kemarahan pejabat pemerintah Amerika dan menyebutnya telah melewati batas.

Menurut laporan Newsweek hari Rabu (7/5), dengan mengutip pernyataan pejabat intelijen senior dan staf kongres yang tak bersedia disebut namanya, tingkat spionase Israel sudah dalam taraf “serius” dan “mengejutkan”, jauh melebihi kegiatan serupa yang dilakukan sekutu dekat AS lainnya.

Beberapa aksi mata-mata itu diduga terkait soal industri, yang dilakukan oleh perusahaan Israel atau perorangan. Namun, jumlah yang signifikan dari aksi spionase itu tampaknya merupakan aksi pengintaian oleh negara, lapor Newsweek.

“Tidak ada negara lain mengambil keuntungan dari hubungan soal keamanan seperti cara Israel untuk tujuan spionase,” kata salah satu mantan penasehat anggota Kongres AS yang menghadiri briefing rahasia tentang masalah ini kepada Newsweek.

“Hal ini cukup mengejutkan. Maksud saya, jangan dilupakan oleh siapa pun bahwa setelah semua cuci tangan (Jonathan) Pollard, ternyata aksi spionase itu masih berlangsung,” tambahnya.

Pollard, seorang analis intelijen Angkatan Laut AS berdarah yahudi, hingga kini masih menjalani hukuman seumur hidup di penjara North Carolina karena melakukan aksi mata-mata untuk Israel. Dia ditangkap tahun 1985.

Masalah kegiatan mata-mata Israel saat ini tampaknya terkait keinginannya untuk bergabung dengan program bebas visa AS, yang akan memungkinkan warga Israel mendapatkan kemudahan lebih besar dalam melakukan perjalanan ke AS.

Persyaratan untuk masuk dalam program bebas visa cukup sulit. Menurut Department of Homeland Security yang dikutip Newsweek, ini termasuk “peningkatan penegakan hukum yang berhubungan dengan keamanan berbagi data dengan Amerika Serikat, pelaporan yang tepat dari paspor yang hilang dan dicuri, menjaga standar tinggi kontraterorisme, penegakan hukum, pengawasan perbatasan, standar penerbangan dan keamanan dokumen.”

Dua hambatan yang dikatakan paling serius terkait penolakan visa disebabkan oleh peningkatan jumlah orang muda Israel yang ingin masuk Amerika sebagai wisatawan dan kemudian bekerja secara ilegal dan dugaan diskriminasi Israel terhadap warga Arab-Amerika.

Diplomat Israel mengatakan bahwa mereka sudah melakukan langkah-langkah konkret untuk memenuhi standar yang dibutuhkan AS. Namun, mantan asisten anggota Kongres mengatakan sebaliknya. “Mereka berpikir bahwa teman-teman mereka di Kongres bisa mendapatkan itu dan itu tidak terjadi,” katanya. Israel dianggap tidak melakukan sesuatu yang membuatnya bisa masuk dalam program bebas visa itu.

Bahkan, jika mereka memenuhi syarat itu, para pejabat AS juga khawatir masuknya Israel ke dalam program bebas visa itu akan membuat negara Yahudi lebih mudah untuk memata-matai sekutunya ini.

“Mereka sangat agresif. Mereka agresif dalam semua aspek hubungan mereka dengan Amerika Serikat,” kata asisten Kongres itu.

“Jika kita memberi mereka kebebasan untuk mengirim orang di sini, bagaimana kita akan hentikan itu?”(ca/tempo.co/newsweek)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL