Washington, LiputaIslam.com–Kurang dari dua minggu setelah AS menyerang pangkalan udara Suriah, Menteri Keuangan AS telah memutuskan sanksi kepada 271 orang Suriah yang dituduh terlibat dalam serangan dan produksi senjata kimia.

Semua sanksi ini ditujukan  kepada orang-orang yang bekerja di Syria’s Scientific Studies and Research Center (SSRC).

Sanksi ini adalah sanksi terbesar yang pernah dikeluarkan oleh AS, dan merupakan langkah perlawanan AS terhadap pemerintah Suriah atas tuduhan serangan gas di Provinsi Idlib, meski tuduhan tersebut masih belum terbukti.

“Sanksi ini menargetkan pusat penelitian yang mendukung serangan gas yang dilakukan oleh diktator Suriah Bashar al-Assad,” kata Menkeu AS Steve Mnuchin.

“Kami berasumsi Suriah telah mengabaikan kehidupan orang-orang tak bersalah, dan kami akan menutup semua jaringan finansial kepada individual yang terlibat dalam produksi senjata kimia,” tambahnya.

Ini bukan pertama kalinya SSRC dijadikan sebagai target sanksi. Beberapa minggu sebelum pelantikan Trump, 6 pejabat Suriah di SSRC juga disanksi oleh pemerintah Obama.

Di saat sekutu-sekutu AS seperti Inggris menyatakan dukungan penuh atas sanksi ini, Rusia sebaliknya mengecam langkah pemerintah AS tersebut yang dinilai menggangu komunitas internasional yang sedang melakukan investigasi serangan kimia Idlib.

“Sekali lagi, kita melihat bagaimana sanksi-sanksi ini tidak dijadikan alat untuk meraih tujuan riil, tapi sebagai sebuah demonstrasi ketegasan theatrikal untuk menggagalkan investigasi,” kata Konstantin Kosachev, ketua Foreign Affairs Committee di parlemen Rusia. (ra/mintpress)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL