dempsey-cold-warWashington, LiputanIslam.com — AS semakin meningkatkan tekanannya terhadap Rusia menyusul insiden jatuhnya pesawat Malaysia Airlines MH-17. Setelah berkali-kali para pejabat AS menuduh terlibat dalam penembakan tersebut dan ancaman sanksi ekonomi yang lebih besar, AS kini mempertimbangkan tindakan militer terhadap Rusia.

Ancaman itu disampaikan langsung, tidak kurang dari Kepala Staff Gabungan (setingkat Panglima TNI di Indonesia) Jendral Martin Dempsey. Demikian laporan Press TV, Sabtu (26/7).

Dalam sebuah pidato di Aspen Institute, Kamis malam (24/7), Jendral Dempsey mengatakan bahwa AS tengah mempertimbangkan tindakan militer yang “tidak pernah dilakukan selama 20 tahun”. Ia juga menuduh Presiden Rusia Vladimir Putin telah “mengobarkan api yang tidak bisa dikendalikannya”.

Menurutnya, Putin sanga jelas tengah mencoba untuk mengembalikan kejayaan Uni Sovyet. Ia juga menuduh Putin tengah memprovokasi sentimen nasionalisme ke seluruh Eropa.

Pernyataan Dempsey tersebut disampaikan setelah Dephan AS menuduh Rusia telah menembakkan artilerinya ke wilayah Ukraina.

“Ini tidak mengubah situasi. Anda melihat sebuah pemerintahan di Rusia yang tengah melakukan tindakan sadar untuk menggunakan kekuatan militernya terhadap negara berdaulat lainnya demi meraih tujuannya. Ini adalah yang pertamanya terjadi sejak tahun 1939 (awal perang dunia II),” kata Dempsey lagi.

“Mereka tengah berada di jalur yang berbeda, tidak saja di negara-negara Eropa Timur, namun juga terhadap seluruh Eropa dan Amerika,” tambahnya lagi.

Dalam pernyataan yang dikeluarkan hari Kamis, Jubir Kemenlu AS Marie Harf menuduh Rusia telah menembakkan artilerinya ke posisi-posisi pasukan Ukraina. Selain itu Rusia juga tengah mencoba untuk mengirim senjata-senjata berat berupa roket-roket kepada kelompok separatis.

Rusia dengan tegas menolak tuduhan itu dan balik menyebutkan bahwa wilayah Rusia-lah yang telah menjadi sasaran tembakan artileri Ukraina.

“Faktanya adalah wilayah Rusialah yang menjadi sasaran tembakan dari Ukraina,” kata jubir kedubes Rusia di AS.

Sementara itu, menambah ketegangan hubungan AS dengan Rusia, mantan menlu dan ibu negara AS Hillary Clinton dalam wawancara dengan CNN, mengatakan bahwa Rusia bertanggungjawab atas situasi yang memburuk di Ukraina, termasuk penembakan pesawat MH-17. Wawancara tersebut akan ditayangkan hari Minggu (27/7).(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL