LiputanIslam.com–AS adalah pabrik senjata. Gedung Putih adalah ruang perang. Dan Presiden AS adalah manajer dari aksi-aksi perang di berbagai penjuru dunia, demi menguasai kekayaan alam.

Apakah bukti dari pernyataan ini?

Sejak tahun 1945, AS telah menewaskan 20 hingga 30 juta orang di seluruh dunia dan mengebom sepertiga penduduk bumi. Pada abad ke-19, bangsa kulit putih imigran yang mengklaim diri sebagai pemerintah AS, membasmi suku Indian. Menulis berbagai perjanjian, lalu merobeknya sendiri, mencuri tanah, membantai, dan mengumpulkan penduduk asli AS, suku Indian, ke kamp-kamp konsentrasi (yang disebut “kamp reservasi kaum Indian”), dengan alibi ‘membudayakan kaum yang “liar.” Pada tahun 1890, pasca pembantaian Lakota di Wounded Knee, perang di dalam negeri pun usai. Pemerintah AS kemudian memulai agenda perang ke Kuba dan Filipina. Di saat ini imperialisme global AS dimulai.

Kemudian, sesuatu yang benar-benar mengerikan terjadi pada tahun 1917. Saat itu, sebuah revolusi sosial yang sukses terjadi di Rusia, revolusi besar kedua setelah Perancis pada tahun 1789. Revolusi Rusia ini mencoba untuk mendistribusikan kekayaan dari segelitir elit kepada rakyat. Namun elit dunia di AS, Inggris, Perancis segera bersatu untuk membendung revolusi ini, karena khawatir revolusi serupa menyebar ke negara mereka. Mereka pun menyerbu Rusia, mensponsori perang saudara, mendanai dan mempersenjatai pasukan kontra-revolusioner. Upaya ini gagal, lalu mereka mencoba lagi pada tahun 1939.

Pasca Perang Dunia II, AS dengan gencar mempropagandakan Soviet sebagai negara barbar, berbasis teror, pembunuhan, dan penyiksaan. Sebaliknya, AS dicitrakan sebagai negara maju, demokratis, dan bebas. Perang Dingin pun muncul, menyebar ke berbagai negara. Indonesia misalnya, mengalami dampaknya. Dengan alasan kekuatiran masuknya pengaruh Soviet ke Indonesia, AS mensponsori penggulingan Sukarno dan diiringi dengan pembantai besar-besaran terhadap rakyat yang dituduh komunis.

Citra bahwa AS negara pendukung kebebasan sebenarnya mudah dibantah dengan menyodorkan catatan sejarah. AS mengebom Jepang dua kali dengan bom nuklir, menewaskan dua ratus ribu orang seketika dan membuat cacat (terkontaminasi radiasi nuklir) ratusan ribu lainnya (bahkan bayi yang dikandung pun akan terpapar radiasi dan lahir cacat).

AS juga melancarkan perang brutal di Vietnam untuk mencegah kemerdekaan dan persatuan bangsa Vietnam. AS membunuh para pemimpin Afrika dan Amerika Latin yang independen dan berupaya memajukan rakyatnya; menggantinya dengan pimpinan yang tunduk kepada Washington. Secara halus, AS juga ‘menjajah’ Eropa barat melalui ‘kerjasama’ NATO, menyeret-nyeret negara-negara Eropa agar ikut dalam berbagai perang yang dikehendaki AS. Di balik topeng beradab dan modern, AS adalah penjahat yang merampas kemerdekaan negara-negara lain.

Setelah upaya masif menyebarkan virus “demokratisasi”, akhirnya AS berhasil mendorong dibubarkannya Uni Soviet pada tahun 1991. Sejak itu, AS menjadi satu-satunya adidaya dunia. AS merancang “The Plan for a New American Century” (PNAC) dengan agenda menyebarkan ‘nilai-nilai AS’ secara global, yaitu kebebasan dan demokrasi, melalui perang-perang pre-emptif dan perubahan rezim. Pada masa Clinton, diluncurkan program “Perang Kemanusiaan”, membombardir negara-negara lain dengan kedok ‘membantu rakyat tertindas’, misalnya di Bosnia dan Kosovo.

Di Kosovo, Clinton memanfaatkan NATO untuk mengebom Serbia dengan alasan ‘melindungi rakyat Albania dari genosida Serbia’, yang sebenarnya tidak terjadi.

Lalu berlanjut ke Libya, dibombardir NATO pada 2011 dengan alasan rakyat di sana tertindas oleh rezim Qaddafi. Negara terkaya di Afrika dan penduduknya memiliki indeks pembangunan manusia yang tertinggi di Afrika itu pun hancur lebur oleh bom NATO. Lalu, sejak 2011 hingga kini AS mendanai dan mempersenjatai pasukan-pasukan teror yang disebutnya ‘pemberontak moderat’ untuk menggulingkan Presiden Assad di Suriah. Belum lagi kita bahas Afghanistan, yang sejak 2001 menjadi bulan-bulanan ‘perang melawan teror’, Yaman, Sudan, Irak, Pakistan, dll. Mali, Nigeria, Somalia, Kenya, pun tak lepas dari agenda perang AS.

Sejak 2015, ada perang yang tak dihiraukan dunia, karena tidak banyak diliput media mainstream, Yaman. Ini adalah kejahatan kemanusiaan yang paling berperasaan, kejam, dan ceroboh di Timur Tengah. Di depan, Arab Saudi yang maju sebagai eksekutor perang, membombardir apa saja dan siapa saja di negara miskin tersebut. Sekitar 14 juta warganya (setengah dari populasi) kini kelaparan, foto-foto bayi dan anak-anak yang kurus kering tak membuat histeria dimanapun. Semua diam.

Namun di belakang, pemerintah AS-lah yang mengendalikan perang, seperti diakui Menlu Saudi. AS juga baru-baru ini mengaku telah mengerahkan pasukan ke Yaman dengan alasan membantu Arab Saudi untuk memerangi al-Qaeda di Semenanjung Arab. Tidakkah aneh: Arab Saudi dan AS yang menciptakan Al Qaida, kini AS mengaku membantu Arab Saudi untuk melawan makhluk ciptaannya sendiri? Apakah kita yang bodoh karena menerima saja klaim itu?

Di negara-negara lainnya, AS melakukan penjajahan melalui kekuatan ekonomo. Mereka dipaksa tunduk pada peraturan-peraturan perdagangan bebas, berhutang terus-menerus pada lembaga-lembaga keuangan yang saham terbesarnya dimiliki AS.

Hasil dari semua aksi AS ini, yang disebutnya demi kebebasan dan demokrasi, hanyalah kematian, kehancuran, hutang, krisis pasar, arus pengungsi besar-besaran, dan kemiskinan sebagian besar penduduk bumi, sementara segelintir orang menjadi amat-sangat kaya. (dw)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL