Washington, LiputanIslam.com—AS terdaftar sebagai salah satu negara paling berbahaya bagi jurnalis menurut data dari organisasi Reporters Without Borders (RSF). 

AS masuk peringat ke-5 di bawah India, Afghanistan, Suriah, Mexico, dan Yaman, seperti yang dilaporkan oleh The Hill pada Selasa (18/12) mengutip data dari RSF.

Menurut RSF dalam laporan tahunannya, tahun 2018 ini merupakan pertama kalinya AS terdaftar di antara negara paling berbahaya bagi jurnalis.

“Negara-negara paling mematikan bagi jurnalis termasuk tiga negara—India, Mexico, dan untuk pertama kalinya, AS—di mana banyak jurnalis terbunuh meski ketiga negara ini sedang tidak berada dalam perang atau konflik,” tulis RSF dalam laporannya.

Pada tahun ini, terdapat 6 jurnalis yang tewas di AS. Empat diantaranya terjadi setelah aksi penyerangan di Capital Gazette Maryland pada Juni, dan 2 lainnya di North Carolina pada Mei.

Menurut laporan ini pula, total sebanyak 80 jurnalis meninggal di seluruh dunia pada tahun 2018, 348 berada dalam penjara, dan 60 ditahan sebagai sandera. Angka ini lebih tinggi daripada tahun-tahun sebelumnya.

Sekjen RSF, Christophe Deloire, pun memperingatkan bahwa kejahatan terhadap jurnalis telah mencapai level yang tak terkira pada tahun ini.

“Kebencian para jurnalis yang disuarakan, dan kadang-kadang diumumkan secara terbuka oleh para politisi tidak bermoral, pemimpin agama, dan pengusaha, berdampak pada kejadian tragis di lapangan,” catatnya.

Salah satu insiden yang paling banyak dibicarakan tahun ini adalah kematian jurnalis Saudi, Jamal Khashoggi, seorang kolumnis Washington Post yang kritis terhadap Pangeran Mohammad Bin Salman. Ia tewas di kedubes Saudi di Istanbul, Turki pada bulan Oktober lalu. (ra/presstv)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*