Vancouver, LiputanIslam.com–AS dan Kanada mengadakan konferensi tingkat tinggi di kota Vancouver yang membicarakan isu Korea Utara. Terdapat diplomat dari 20 negara yang diundang, namun tidak untuk Rusia dan Cina.

Menurut menlu Rusia Sergey Lavrov, Cina dan Rusia hanya diundang mendatangi akhir pertemuan untuk mengetahui hasil diskusi.

KTT yang digelar pada 15 sampai 17 Januari itu bertujuan untuk mencapai “keamanan, kesejahteraan dan denuklirisasi di semenanjung Korea”.

“Kelompok menlu Vancouver dari seluruh dunia akan bertemu untuk menunjukkan solidaritas untuk melawan aksi berbahaya dan ilegal Korea Utara,” demikian pernyataan yang ditulis pemerintah Kanada.

18 negara yang diundang selain AS dan Kanada, yaitu Denmark, Yunani, Norwegia, New Zealand dan lainnya. Sedangkan dua negara pemain utama– Cina dan Rusia – yang bertetanggaan langsung dengan Korut, tidak diundang karena alasan tertentu.

Pemilihan negara yang berpartisipasi, yang sebagian besar berada di luar konflik Korut, telah membuat sejumlah diplomat angkat alis, termasuk salah satu sekutu besar AS, Jepang.

“Kami dan Cina tidak diundang, tetapi kami hanya diberitahu ‘pertemuan akan digelar malam ini, pertemuan utama pada tanggal 16, datanglah dengan Cina pada tanggal 16 malam, kami akan beritahu apa yang telah kami setujui,’” kata  Lavrov dalam konferensi  pers pada Senin (15/1/18)

“Itu tentu saja tidak bisa diterima,” ujarnya.

Menurutnya, hasil pertemuan KTT itu tidak akan siginifikan untuk menyelesaikan isu Korut.

“Dengan hormat kepada mereka yang datang dengan inisiatif seperti itu, saya tidak mengharapkan hasil yang produktif… “ tambahnya.

Senada dengan Rusia, juru bicara kemenlu Cina Lu Kang menyatakan bahwa pertemuan tanpa mediator utama dalam krisis Korut “hanya akan mengakibatkan perpecahan dalam komunitas internasional dan merusak upaya bersama untuk menyelesaikan isu nuklir semenanjung Korea,”

Rusia dan Cina sebelumnya berkali-kali meminta semua pihak yang terlibat dalam krisis Korea untuk berhenti melakukan tindakan permusuhan dan melakukan dialog yang bermakna. Moscow dan Beijing mendukung rencana “double freeze”, di mana Pyongyang diharapkan untuk menangguhkan program nuklir, dan sebagai gantinya AS dan sekutunya menghentikan latihan militer di kawasan. Namun, rencana ini ditolak oleh AS. (a/rt)

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL