oplan exodus inquiryManila, LiputanIslam.com — Sebuah laporan Senat Filipina membuka fakta bahwa pasukan AS berperan signifikan dalam peristiwa yang mengakibatkan terbantainya 44 polisi khusus Filipina dalam bentrokan dengan pemberontak Moro di Filipina Selatan, 25 Januari lalu.

Seperti dilansir Russia Today, Selasa (17/3), Senator Grace Poe merilis laporan komisi penyidik peristiwa tragis tersebut yang dikenal dengan nama insiden “Oplan Exodus”, nama operasi penumpasan gerombolan pemberontak Moro yang berakhir petaka.

“Personil-personil AS memainkan peran dalam pelatihan sebelumnya, dan memonitor operasi itu,” kata Poe, sembari menambahkan bahwa “Komisi menemukan bahwa AS secara substansial menciptakan seluruh operasi Oplan Exodus. Mereka menyediakan perlengkapan, pelatihan dan inteligen.”

Menurut laporan itu tiga personil AS berada di markas pasukan militer Filipina selama berlangsungnya operasi tersebut, namun tindakan mereka justru menimbulkan ketegangan selama berlangsungnya operasi tersebut.

“Salah seorang AS itu memerintahkan Mayjend Edmundo Pangilinan untuk menembakkan artileri. Namun Pangilinan menolaknya,” kata Poe.

Di bawah perjanjian AS-Filipina, AW berkewajiban membantu pelatihan dan inteligen, namun dilarang terlibat dalam pertempuran.

Laporan itu juga menyebutkan bahwa, meski tidak ada bukti keterlibatan langsung AS dalam pertempuran, namun dikhawatirkan pengaruh mereka sangat kuat di kalangan kepolisian (Philippine National Police). Inilah yang berujung pada kematian 44 personil kepolisian Filipina tersebut.

Laporan itu juga menekankan pada akuntabilitas AS dalam peristiwa tersebut, mengingat mereka menolak untuk menjelaskan peran mereka dalam tragedi itu. Lebih jauh, laporan itu juga mendesak Presiden Benigno Aquino untuk bertanggungjawab.

Dalam peristiwa tanggal 25 Januari itu pasukan khusus kepolisian melakukan operasi penangkapan terhadap pemimpin pemberontak Moro Abdul Basit Usman dan Zulkifli bin Hiry. Namun operasi yang diharapkan berlangsung singkat itu berubah menjadi pertempuran sengit selama 12 jam, dimana 44 anggota polisi khusus tewas, sementara di pihak pemberontak MILF 18 orang tewas.

Dalam operasi itu Hiry tewas, sementara Usman berhasil melarikan diri.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*