bentrok kievcWashington, LiputanIslam.com — Amerika Serikat mendesak pemerintah Ukraina untuk menarik polisi anti huru-hara dari Independence Square di Kiev serta menyerukan perdamaian dan berdialog dengan oposisi, setelah sedikitnya 26 orang tewas dalam kekerasan terburuk sejak negara bagian Republik Soviet itu memperoleh kemerdekaan, hari Selasa (18/2).

Hal itu disampaikan Deputi Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih, Ben Rhodes, Rabu (19/2). Ia menambahkan bahwa AS akan mempertimbangkan sanksi terhadap mereka yang bertanggung jawab atas terjadinya kasus kekerasan di Ukraina.

Menindaklanjuti pernyataan Menteri Luar Negeri AS John Kerry sebelumnya, Rhodes mengatakan Amerika Serikat sedang berkonsultasi dengan Uni Eropa tentang kemungkinan pemberian sanksi terhadap Ukraina.

“Kami terus melihat perkembangan di sana dari dekat, termasuk yang kami percaya bertanggung jawab atas kekerasan, dan kami telah membuat jelas bahwa kami akan mempertimbangkan mengambil tindakan terhadap mereka yang bertanggung jawab atas tindak kekerasan di Ukraina, termasuk dengan sanksi,” kata Rhodes kepada wartawan.

Dia mengatakan AS akan berbicara dengan negara-negara Eropa tentang situasi di Ukraina menjelang pertemuan para menteri luar negeri Uni Eropa di Brussels, Kamis, 20 Februari 2014.

Para pejabat AS, yang sebelumnya telah mengatakan mereka enggan menjatuhi sanksi, lebih memilih mencari solusi diplomatik untuk krisis politik di Ukraina, yang meletus tahun lalu ketika Presiden Ukraina Viktor Yanukovich menolak kesepakatan perdagangan yang luas dengan Uni Eropa dan memilih menerima dana talangan US$ 15 miliar dari Rusia. Langkah Yanukovich ini memicu demonstrasi anti-pemerintah hingga kini.

Rusia Kecam Demonstran dan Barat

Sementara itu Rusia mengecam negara-negara barat atas keterlibatannya dalam aksi kerusuhan hari Selasa lalu seraya menyebut aksi kekerasan tersebut sebagai “percobaan kudeta oleh para radikalis”.

Dalam konferensi pers di Kuwait City, Rabu (19/2), Lavrov menuduh “kalangan oposisi radikal” Ukraina telah melanggar semua kesepakatan yang dibuat untuk kompromi dengan kepemimpinan Ukraina, dengan “melemparkan bom molotov ke arah polisi dan menggunakan senjata api”.

Dia juga mengecam “upaya oleh politisi Barat untuk menyalahkan Rusia atas situasi yang terjadi”. Dia mengatakan bahwa semua pihak harus menempatkan kepentingan Ukraina di atas kepentingan geopolitik mereka sendiri.

Sampai Rabu malam (19/2), setidaknya 26 orang dikonfirmasi tewas dalam bentrokan di Kiev yang berkobar Selasa sore ketika aparat keamanan berusaha membubarkan aksi kemah demonstran di Lapangan Kemerdekaan, Kiev. Semalam, kekerasan telah menyebar ke setidaknya tiga kota lainnya, dengan pengunjuk rasa telah membakar bangunan administrasi di Kiev, Lviv, Ivano-Frankivsk dan Ternopol, demikian laporan media-media lokal.

Sekitar 800 orang telah terluka dalam bentrokan di Kiev saja, dengan sekitar setengah dari mereka yang terluka adalah pasukan keamanan.(ca/reuters/interfax)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL