demo ukrainaLiputanIslam.com — Bagi yang pernah belajar ilmu politik tentu tidak akan mengerti, mengapa para demonstran di Ukraina tetap saja melancarkan aksi-aksi yang justru semakin hari semakin keras. Padahal pemerintah Ukraina telah memenuhi hampir semua tuntutan mereka tanpa memaksakan satu syarakatpun yang memberatkan. Mulai dari pengunduran diri perdana menteri dan tawaran jabatan eksekutif bagi para pemimpin demonstran, pencabutan undang-undang larangan demonstrasi hingga pemberian amnesti bagi para demonstran yang ditangkap.

Dalam ilmu politik diajarkan bahwa politik adalah “seni tawar menawar untuk meraih kekuasaan”. Maka apa yang dilakukan para demonstran di Ukraina telah melenceng jauh dari prinsip dasar politik.

Jawaban baru bisa ditemukan jika kita mengetahui apa yang dikatakan Asisten Menteri Luar Negeri Amerika, Victoria Nuland dalam pertemuan Nasional Press Club bulan Desember 2013 lalu, bahwa Amerika telah menginvestasikan $5 milyar untuk “mengorganisir jaringan guna memuluskan tujuan Amerika di Ukraina” selain untuk memberikan “masa depan yang layak bagi Ukraina.” (http://www.informationclearinghouse.info/article37599.htm)

Nuland pula, pejabat yang “tertangkap tangan” membicarakan nama-nama calon pejabat tinggi Ukraina mendatang jika pemerintahan Presiden Viktor Yanukovych berhasil ditumbangkan oleh para demonstran, setelah pembicaraan teleponnya dengan dubes Amerika di Ukraina bocor ke publik bulan lalu.

Johannes Loew dari situs elynitthria.net menulis tentang sebagian dari dana yang dikeluarkan Amerika untuk “mengorganisir jaringan” di Ukraina:

”Aku baru saja kembali dari Ukraina. Rata-rata mereka di sana (demonstran) mendapat 100 grivna, 300 untuk yang mahasiswa.”

Menurut Paul Craig Roberts, mantan Asisten Menkeu Amerika dan editor The Wall Street Journal, dalam artikelnya berjudul “US and EU Are Paying Ukrainian Rioters and Protesters” di situs Globalresearch tgl 17 Februari lalu, apa yang dimaksud Nuland dengan “masa depan yang layak bagi Ukraina” di bawah kekuasaan Uni Eropa sebenarnya adalah untuk menjarah Ukraina seperti yang telah mereka lakukan terhadap Latvia dan Yunani, serta untuk menjadikan Ukraina sebagai tempat pangkalan rudal AS melawan Rusia.

Nyatanya media Amerika dan Eropa tidak pernah menyinggung dana $5 miliar itu dan justru memberitakan bahwa pemerintah Ukraina membayar para pengunjuk rasa pendukung pemerintah. (http://www.usatoday.com/story/news/world/2014/02/16/ukraine-government-protests/5435315/). Kalau pun hal ini benar, tentu pemerintah Ukraina akan kesulitan untuk menandingi $5 milyar yang digelontorkan Washington.

Seperti pernah ditulis Karl Marx, uang mengubah segalanya menjadi komuditas untuk dijual atau dibeli. Tentu tidak mengherankna bila ada beberapa  pengunjuk rasa yang bekerja untuk kedua belah pihak di waktu yang sama.

Namun demikian tidak semua pengunjuk rasa adalah orang-orang bayaran. Banyak juga dari mereka adalah orang-orang lugu yang tertipu untuk ikut turun ke jalan karena merasa bahwa mereka tengah mendemo pemerintah Ukraina yang korup. Pengunjuk rasa Ukraina berfikir bahwa mereka bisa selamat dari korupsi dengan bergabung bersama Uni Eropa. Sayangnya pengunjuk rasa yang tertipu ini tidak tahu  laporan Komisi Uni Eropa untuk Urusan Rumah Tangga pada tanggal 3 Februari, tentang korupsi di dalam Uni Eropa.

Laporan itu menyebutkan bahwa korupsi politik-bisnis mempengaruhi 28 negara anggota Uni Eropa dan menguras ekonomi Uni Eropa sebesar $16,2 milyar per-tahun.  (http://www.aljazeera.com/news/europe/2014/02/eu-report-corruption-widespread-bloc-20142313322401478.html) . Menurut laporan Bank Dunia, biaya ekonomi yang dikorupsi dalam Uni Eropa bahkan hampir sebesar PDB Ukraina.

Jadi jelas sudah, bahwa Ukraina tak akan selamat dari korupsi bila bergabung dengan Uni-Eropa. Bahkan Justru, Ukraina akan mengalami korupsi yang lebih parah.

Mungkin orang orang lugu itu bisa diuntungkan dari pelajaran yang akan mereka terima nantinya begitu negara mereka dikuasai Brussels dan Washington.

Menurut Paul Craigh Robert apa yang terjadi di Ukraina adalah “sebuah kebodohan”, sama seperti saat Amerika dan Eropa memainkan sebuah permainan besar dan membuat kita merasakan Perang Dunia I. Namun kali ini Perang Dunia III akan jadi perang terakhir. Upaya Washington untuk menguasai setiap kesempatan guna membangun hegemoninya ke seluruh dunia telah mengantar kita semua pada perang nuklir. Paul merefer pada Rusia yang kemungkinan tidak akan tinggal diam melihat “sekutu”-nya, Ukraina jatuh ke tangan Amerika.

“Seperti Nuland, sebuah prosentasi signifikan dari populasi Ukraina Barat menunjukkan mereka adalah Anti-Rusia. Tapi emosi warga Ukraina yang tersulut uang Washington  tidak seharusnya merubah sejarah. Tidak akan ada sejarawan yang tersisa yang bisa mendokumentasikan betapa bodoh dan dungunya warga Ukraina menyebabkan kehancuran dunia,” tulis Paul Craig Roberts dalam artikelnya.(ca/lb)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL