malaysia airlines b777Washington, LiputanIslam.com — Musibah jatuhnya pesawat Malaysia Airlines yang sampai saat ini belum diketahui keberadaannya, kini melebar ke isu terorisme. Para pejabat AS mengatakan, hari Sabtu (8/3), bahwa mereka sedang menyelidiki soal terorisme itu setelah dua orang korban ternyata tak berada di dalam pesawat dan melaporkan paspor mereka dicuri. Demikian laporan NBCnews.

“Kami menyadari pelaporan pada dua paspor yang dicuri itu. Kami belum menentukan perhubungannya dengan tindak terorisme. Masih sangat dini dan itu tidak berarti definitif,” kata seorang pejabat senior sebagaimana dikutip NBCNews.

Para pejabat AS mengatakan mereka memeriksa ke dalam manifes penumpang dan akan kembali menyelidiki dari sisi intelijen.

Seorang warga Italia tidak berada di dalam pesawat bernomor penerbangan MH370 itu seperti yang diumumkan, demikian Kemenlu Italia mengatakan. Yang bersangkutan mengaku paspornya dicuri. Penumpang tersebut adalah Luigi Maraldi, berusia 37 tahun, yang disebut dalam manifes pesawat berkewarganegaraan Italia. Koran Corriere Della Sera melaporkan bahwa paspor Maraldi dicuri di Thailand Agustus lalu. Kementerian Dalam Negeri Italia menolak mengomentari laporan tersebut.

Kementerian Luar Negeri Austria juga mengatakan warga Austria yang dilaporkan berada dalam penerbangan tersebut juga dalam kondisi aman. Ia juga mengaku paspornya dicuri.

Pilot Senior: Musibah yang Aneh

Pilot senior Garuda Indonesia Capt. Ari Sapari menilai hilangnya pesawat Malaysia Airlines, Sabtu, 8 Maret 2014, merupakan kejadian yang aneh. Rute yang dilintasinya bukan area berat. “Rute normal, tak ada masalah sama sekali,” katanya kepada media, Sabtu (8/3).

Pesawat Malaysia Airlines yang hilang itu berangkat dari Kuala Lumpur pada pukul 00.55 waktu setempat dan dijadwalkan mendarat di Beijing pada 06.30. Namun, setelah dua jam perjalanan, pesawat dengan nomor penerbangan MH-370 itu putus kontak. Pesawat jenis Boeing 777-200 tersebut mengangkut 227 penumpang dan 12 awak. Terdapat 12 WNI di pesawat Malaysia Airlines yang hilang itu.

Sepanjang lintasan rute tersebut, Ari melanjutkan, pesawat seharusnya juga terus termonitor otoritas navigasi negara-negara yang dilalui. Pada rute itu, monitor atas pesawat berlanjut estafet mulai dari Malaysia, Singapura, Vietnam, dan Cina.

Seharusnya pilot pesawat terus lapor ke otoritas navigasi di bawah. “Ada kerusakan sedikit langsung lapor,” katanya. Sebaliknya, petugas navigasi selalu memandu dan memantau pesawat. Terlebih pesawat yang digunakannya, yakni Boeing 777-200, juga sudah dilengkapi perangkat radar dan komunikasi yang bagus.

Akses komunikasi dan pemantauan radar pesawat Malaysia Airlines ini seharusnya normal. “Tak ada area tanpa sinyal yang dilewati,” Ari menjelaskan. Pada rute itu lintasan di atas daratan. Jalur di atas laut hanya jika pilot ambil rute via Hong Kong. “Itu pun laut dekat daratan.”(ca/tempo.co/nbcnews)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL